#30 Hari di Penghujung Bulan

 

beach-927935_1280-copy

“Mungkin itu hanya sekadar melankoli. Tapi aku tak keberatan bersandar pada sesuatu yang sudah berlalu, jika itu bisa membuatku kuat.” – Surti Anandari

Aku baru saja menghabiskan 464 halaman tulisan milik Leila S Chudori, Pulang. Pulang adalah novel kesukaannya, di antara tumpukan novel lain yang juga ia sukai. Aku ingat bagaimana dulu ia pernah bercerita betapa ia membenci salah seorang penulis tanah air menulis buku dengan judul yang sama.

“Apa maksudnya ikut-ikutan buat judul Pulang? Pasti lebih bagus milik Leila,” gerutunya saat itu.

Aku hanya bisa tersenyum sambil tertawa kecil. Penulis yang di-gerutuin-nya tadi adalah salah satu penulis favoritku juga. Sedikit hatiku merasa tak terima mendengar dia berkomentar seperti itu. Tapi aku tahu seperti apa kepopuleran Pulang milik Leila, jelas-jelas keduanya berbeda.

Dengan tetap tersenyum yang jelas-jelas tak bisa dilihatnya, aku mencoba menjelaskan buku yang satu lagi. Betapa mereka membahas kedua konteks cerita yang berbeda, yah meskipun aku harus jujur padanya, Pulang yang sedang kami bahas saat itu jelas bukan salah satu buku favoritku. Ceritanya agak ngawur.

Waktu itu ia bilang betapa aku harus membaca Pulang milik Leila. “Tapi mungkin akan sedikit berat untukmu, karena kau tak menyukai sejarah. Apa kau bilang kemarin? Baca Tetralogi Buru saja membuatmu mual?” Ia menutup kalimatnya dengan tawa kecil di ujung.

Aku pun tertawa. Yah mau bagaimana lagi, aku menyukai Tetralogi Buru, hanya tak sampai memberikan poin 10 untuk kesukaanku, karna benar katanya, aku mual saat baca Rumah Kaca. Pusing dihantam gelombang kalimat-kalimat tiada henti.

Tapi ia tetap merekomendasikan Pulang masuk dalam list bacaanku. Hingga di suatu kesempatan ia tawarkan untuk meminjamiku miliknya. Kebetulan ia akan berkunjung meski tak akan lama. Ia janji untuk membawakannya, sekalian dengan dua buku lain yang juga ia harapkan aku untuk membacanya.

Aku tak mau bertangan kosong, diam-diam aku membelikannya sebuah buku. Murjangkung milik AS Laksana. Ia bilang sudah mencarinya kemana-mana tapi tak ketemu, karena sudah cetakan lama dan tak ada lagi di Gramedia. Aku secara tak sengaja menemukannya dan memutuskan untuk memberikan buku itu. Ditambah dua buku lain yang sudah kami nanti-nantikan masa terbitnya. Kami akan bertukar kesemua buku-buku itu.

Tapi di hari-hari terakhir keberangkatannya, ia putuskan untuk tak jadi membawa Pulang, terlalu repot, aku hanya bawa ransel kecil, katanya. Kumaklumi saja, toh aku memang tak terlalu ingin membacanya,

Lalu dua hari yang lalu, ku’rampok’ Pulang milik seorang teman. Kuakui, selain karena kepopulerannya, ia adalah alasanku untuk membacanya.

Dan, aku sudah selesai membacanya. Ternyata tak ‘seberat’ yang dipaparkannya. Nyatanya, aku menyukainya. Dan baru di halaman kesepuluh, aku langsung mengamanatkan pada diri sendiri, akan kubeli satu untuk diriku sendiri, agar kelak kan kupinta keturunanku membacanya. Cara ini jauh lebih mudah untuk menceritakan padanya sejarah Indonesia. Aku jatuh cinta pada cara Leila bercerita. Ia benar, buku pilihannya tak pernah ada yang mengecewakan.

Kalian harus tahu berparagraf-paragraf tulisan di atas hanyalah pembuka. Jembatan yang kugunakan untuk ke paragraf selanjutnya. Semacam mengelak saat ditunjuk guru untuk menjawab pertanyaan.

Karena hari di penghujung bulan akan datang sebentar lagi. Aku dihadapkan pada kenangan-kenangan yang datang silih berganti. Hingga puncaknya adalah catatan kecil yang ada di handphone pintar. Seharusnya ada kartu Natal yang kita beli dan tulis di minggu depan untuk seseorang yang kusayangi karena dia menyayanginya.

Dia harus tahu, kenangan adalah cara paling bangsat yang memaksaku meskipun aku setengah mati menolak untuk kembali mengingat. Dia juga harus tahu kenangan tak pernah datang dengan sopan santun, mengucapkan salam dan meminta izin untuk datang berkunjung. Atau tetap kembali mohon diri saat memutuskan pergi.

Dia harus tahu, aku masih belum tahu harus bagaimana memperlakukan kenangan. Kerap aku mengabaikannya, mencari pelarian. Meski sesekali aku terlena, membiarkan diri larut di dalamnya. Seperti sekarang.

Aku tak tahu, apakah kenangan masih dengan kurang ajar menyambanginya atau tidak. Karena yang kutahu, kami sama-sama berusaha. Aku dan dia sama-sama membangun kenangan masing-masing. Agar tetap ringan untuk dibawa dalam kenangan lain.

Karena pada kenyataannya, ku bertemu dia yang lain. Yang sama sama sekali berbeda dengannya namun ada. Ada dengan segala kesederhanaannya dan tingkah manisnya menghadapiku, yang kalau seperti katanya dulu, masih suka labil maunya apa.

Aku menutup kenangan tepat saat hari di penghujung bulan.

img_20161018_065951

 

Advertisements

13 thoughts on “#30 Hari di Penghujung Bulan

    1. wahaha, sepertinya kesukaan kita berbeda Mas 🙈🙈 saya malah enggak kenal Leila Heartfilia hihi. Oke juga nih kalo tukeran kesukaan, biar beragam, hehe 😋😋

      Like

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s