Selamat Ulang Tahun (Lagi) Wen

Wen, selamat ulang tahun lagi ya. Selamat ulang tahun untuk yang ke-dua-puluh-tiga. Dua puluh tiga jelas bukan angka yang kecil, tapi belum bisa dibilang besar juga. Angka yang cukup dan tepat untuk menjelajahi isi dunia berserta orang-orangnya. Kalau tak ingin jalan sendirian, jangan cepat-cepat cari teman hidup ya. Cukup-cukuplah bersama diriku saja saat ini. Membersamai … Continue reading Selamat Ulang Tahun (Lagi) Wen

Advertisements

Belajar Bersama Okky Madasari

Aku tak menyebut diriku penulis, tapi kuharap suatu saat aku bisa menulis sesuatu yang menjadi teman berproses bagi seseorang. Tak harus buku tebal-tebal berisi pemikiran-pemikiran berat. Berisi nilai-nilai baik, suara-suara yang tak didengar, dan perjuangan. Seperti Okky Madasari. Aku punya beberapa penulis Indonesia yang sangat kusukai karya-karyanya. Aku suka ide-ide tulisan mereka, bagaimana mereka bercerita … Continue reading Belajar Bersama Okky Madasari

Untukmu yang Sedang Berulang Tahun

Happy birthday to you, Happy birthday to you. Happy birthday dear Adam, Happy birthday to you. Selamat menua duluan, Bah! Selamat sudah menjalani hidup yang lama di dunia ini. 24 tahun! Untukmu yang sedang berulang tahun, yang tak suka perayaan ulang tahun tapi menyukai hadiahnya, bagaimanapun bertambahnya usia sesuatu yang harus dirayakan. Setidaknya oleh dirimu … Continue reading Untukmu yang Sedang Berulang Tahun

Dia yang Ketujuh

Being happy is not impossible. Aku ingin katakan itu padanya. Atau sekaligus meneriakkannya. Wajahnya berubah sendu sore itu, setelah satu sesi pembicaraan yang panjang. Dia baru saja menceritakan sesuatu yang sama sekali tak kuduga. Kelabu yang sama datang lagi saat dia kembali bercerita di lain hari. Itupun setelah lama aku mendesak-desaknya. Ceritakan, kataku. Bukannya membalas, … Continue reading Dia yang Ketujuh

Dia yang Keenam

Aku suka melihatnya tertawa. Apalagi tertawa karena diriku. Dia yang kukenal dulu tidak murah tertawa. Dia kaku, menjaga jarak. Membuat batas pagar yang jelas. Bahkan dalam hubungan pertemanan. Berbicara dengannya harus dimulai duluan kalau tidak ingin menghabiskan waktu berjam-jam dalam diam. Tentu saja karena dia gugup, dan kaku. Tapi begitupun aku suka. Dia terlihat lucu … Continue reading Dia yang Keenam

Dia yang Kelima

Pernah aku marah padanya. Marah sekali sampai menolak bicara dengannya. Tidak mau secara langsung ataupun tidak langsung melalui telepon dan aplikasi pesan. Saat itu, marah yang kurasakan terasa sangat mendalam. Kukira dia selama ini mengerti tentang diriku. Memahami setiap keputusan yang kuambil. Tahu setiap kondisi dan kejadian sebab akibat yang terjadi padaku. Jadi, saat dia … Continue reading Dia yang Kelima