#suratkeduapuluhdua

| Jadi seperti inikah nasib menjadi perempuan? Sejak kecil dipaksa tergantung kepada orangtua, setelah dewasa dipaksa bergantung pada suami, jika memiliki anak perempuan, masa tua harus dijalani sendirian. Suami . . . apalah artinya suami. Mereka ada hanya sebagai pemberi benih. Sewaktu muda mereka menjajah, selagi tua harus diurus dengan sabar. Jika ditinggalkan, masyarakat akan … Continue reading #suratkeduapuluhdua

Advertisements

#suratkeduapuluhsatu

Dimana lagi aku akan menemukan lelaki seperti dia? Elok parasnya, baik budinya, halus perangainya, lembut suaranya, besar pengertiannya. Mungkin sesekali dia tak akan terlihat seperti itu. Mungkin sesekali dia akan sangat menyebalkan. Berkerut wajahnya, meninggi suaranya, mendengus-dengus ia, sesekali menghela napas. Tapi, ia tetaplah dirinya. Dimana lagi aku akan menemukan lelaki seperti dia? Luas sabarnya, … Continue reading #suratkeduapuluhsatu

#suratkeduapuluh -Bahagia-

Jadi, bahagia versimu itu apa? tanyanya. Aku? Sodorkan saja aku eskrim dan buku-buku, pasti aku bahagia. Atau telpon saja aku di waktu senggangmu, membiarkanku mendengar suaramu, pasti aku bahagia. Atau seperti kemarin, saat kau menemaniku menjelang tidur, sayup-sayup bercerita diselilingi lagu hanya untuk menemaniku lelap, pasti aku bahagia. Atau kemarin lusa saat kau menepuk-nepuk pelan … Continue reading #suratkeduapuluh -Bahagia-

#suratkedelapanbelas

Tentang chemistry. Pernah kau merasa kesal saat seseorang bertanya padamu tentang perkembangan tugas akhirmu dengan menyelipkan ucapan sederhana seperti, "memang ngapain aja sih kok enggak kelar-kelar?" hanya karena kau tak dekat dengannya? Tapi di lain waktu saat seseorang yang akrab bertanya hal yang sama kau hanya menjawab sambil tertawa-tawa. Atau di lain waktu, seseorang dengan … Continue reading #suratkedelapanbelas

#suratketujuhbelas

Biar kuceritakan sesuatu padamu. Akhir-akhir ini aku lelah. Lelah menghadapi dirimu. Lelah harus menekan-nekan perasaan agar tak terlalu berdebar-debar di hadapanmu. Lelah menahan-nahan ketakukan kalau-kalau kau mendengar degup jantungku. Atau tanpa sengaja melihat senyum dan merah pipiku. Seperti kemarin, ketika kau tiba-tiba menepuk-nepuk pelan ujung kepalaku. Lalu tersenyum dan bilang, "Jangan sakit-sakit ya." Atau kemarinnya … Continue reading #suratketujuhbelas