Cerita di Balik Layar

Untuk mereka, orang-orang baik hati yang secara sadar dan tanpa sadar mengulurkan tangan membantuku. Memberikan rasa hangat menyemangatiku. Memberi iri yang memotivasiku. Rasa syukur, ucapan maaf dan setumpuk rasa sayang kusampaikan untuk Kakek dan Nenek. Untuk Ibu dan adik-adik. Begitu juga para Uwak, para Paklik, para Buklik dan sepupu-sepupu serta keluarga besar yang tak henti-hentinya … Continue reading Cerita di Balik Layar

Advertisements

Sore Itu Menyenangkan

Sore itu menyenangkan. Setelah minggu-minggu terakhir disergap kesibukan masing-masing, akhirnya ada waktu yang bisa dilewatkan bersama. Lengkap dengan tumpukan makanan. Kami suka jajan. Sebenarnya aku yang suka jajan dan suka maksa dia untuk jajan bersama. Karena ada banyak macam dan tak akan habis kalau aku sendirian. Aku suka makanan kecil-kecil yang bisa ditemukan di pinggir … Continue reading Sore Itu Menyenangkan

Belajar Bersama Okky Madasari

Aku tak menyebut diriku penulis, tapi kuharap suatu saat aku bisa menulis sesuatu yang menjadi teman berproses bagi seseorang. Tak harus buku tebal-tebal berisi pemikiran-pemikiran berat. Berisi nilai-nilai baik, suara-suara yang tak didengar, dan perjuangan. Seperti Okky Madasari. Aku punya beberapa penulis Indonesia yang sangat kusukai karya-karyanya. Aku suka ide-ide tulisan mereka, bagaimana mereka bercerita … Continue reading Belajar Bersama Okky Madasari

Dia yang Ketujuh

Being happy is not impossible. Aku ingin katakan itu padanya. Atau sekaligus meneriakkannya. Wajahnya berubah sendu sore itu, setelah satu sesi pembicaraan yang panjang. Dia baru saja menceritakan sesuatu yang sama sekali tak kuduga. Kelabu yang sama datang lagi saat dia kembali bercerita di lain hari. Itupun setelah lama aku mendesak-desaknya. Ceritakan, kataku. Bukannya membalas, … Continue reading Dia yang Ketujuh

Dia yang Keenam

Aku suka melihatnya tertawa. Apalagi tertawa karena diriku. Dia yang kukenal dulu tidak murah tertawa. Dia kaku, menjaga jarak. Membuat batas pagar yang jelas. Bahkan dalam hubungan pertemanan. Berbicara dengannya harus dimulai duluan kalau tidak ingin menghabiskan waktu berjam-jam dalam diam. Tentu saja karena dia gugup, dan kaku. Tapi begitupun aku suka. Dia terlihat lucu … Continue reading Dia yang Keenam

Dia yang Kelima

Pernah aku marah padanya. Marah sekali sampai menolak bicara dengannya. Tidak mau secara langsung ataupun tidak langsung melalui telepon dan aplikasi pesan. Saat itu, marah yang kurasakan terasa sangat mendalam. Kukira dia selama ini mengerti tentang diriku. Memahami setiap keputusan yang kuambil. Tahu setiap kondisi dan kejadian sebab akibat yang terjadi padaku. Jadi, saat dia … Continue reading Dia yang Kelima