Dia yang Keenam

Aku suka melihatnya tertawa. Apalagi tertawa karena diriku. Dia yang kukenal dulu tidak murah tertawa. Dia kaku, menjaga jarak. Membuat batas pagar yang jelas. Bahkan dalam hubungan pertemanan. Berbicara dengannya harus dimulai duluan kalau tidak ingin menghabiskan waktu berjam-jam dalam diam. Tentu saja karena dia gugup, dan kaku. Tapi begitupun aku suka. Dia terlihat lucu … Continue reading Dia yang Keenam

Advertisements

Dia yang Kelima

Pernah aku marah padanya. Marah sekali sampai menolak bicara dengannya. Tidak mau secara langsung ataupun tidak langsung melalui telepon dan aplikasi pesan. Saat itu, marah yang kurasakan terasa sangat mendalam. Kukira dia selama ini mengerti tentang diriku. Memahami setiap keputusan yang kuambil. Tahu setiap kondisi dan kejadian sebab akibat yang terjadi padaku. Jadi, saat dia … Continue reading Dia yang Kelima

Dia yang Pertama

Aku sering mengeluh tiap dia tidak mendengarkan ceritaku dengan penuh. Ada-ada saja yang dikerjakannya saat aku bercerita. Entah itu bermain game di ponsel, menonton siaran di channel Youtube, mengerjakan desain terbarunya, menonton film di laptop, sedang makan, membuat cokelat panas atau hal lain. Aku selalu merespon dengan cemberut di bibir, berusaha menarik perhatiannya. Menarik salah … Continue reading Dia yang Pertama