#suratkeduapuluhdua

17203031_1128595663917589_4663349152923595102_n
[Kanan-Kiri: Mumu, Rati, Shella] Mengenal mereka sejak pertama kali menjejak kaki di Rumah Tanpa Jeda, Pers Mahasiswa SUARA USU. Kami jarang sekali akur, tapi tetap bertahan satu dengan yang lain hingga hari ini.

| Jadi seperti inikah nasib menjadi perempuan? Sejak kecil dipaksa tergantung kepada orangtua, setelah dewasa dipaksa bergantung pada suami, jika memiliki anak perempuan, masa tua harus dijalani sendirian. Suami . . . apalah artinya suami. Mereka ada hanya sebagai pemberi benih. Sewaktu muda mereka menjajah, selagi tua harus diurus dengan sabar. Jika ditinggalkan, masyarakat akan mencap perempuan sebagai makhluk berdosa dan tak setia. Jadi, siapa sebenarnya yang tak setia? |

Kutemukan potongan-potongan tersebut dalam rintihan Nurjannah, istri Abdul Halim, pengusaha kaya raya dari Wanaraja. Keduanya memiliki 4 orang anak perempuan dengan si bungsu, Dewi, menjadi kesayangan. Nurjannah bersuamikan Abdul Halim, memilih menikahi anak Kiai Bustaman, Aminah, yang seumuran dengan bungsunya untuk menggandakan kekayaan.

Setelah Aminah ditemukan mati di tengah hutan lepas penolakannya untuk menikah, ia tegaskan untuk menikahkan si bungsu dengan Hidayat, keponakan Kiai Bustaman, demi kekayaan yang tak lari diambil orang.

Abdul Halim yang setelah menghajar habis-habisan bungsunya, karena berkata kasar pada ayahnya akibat dari perbuatan si Ayah menghajar Nurjannah karena menolak rencana pernikahan suaminya, enggan meminta maaf pada istri dan anaknya. Pasalnya, ia tak mampu sekadar membelai dan meminta ampun bungsunya. Tradisi tak pernah mengajarkan laki-laki meminta maaf kepada perempuan. Tak pernah juga ia mendengar ada ajaran yang memberi wejangan agar seorang ayah meminta ampun kepada anaknya.

Seperti itu.

Teruntuk wanita-wanita yang kutemui dalam perjalanan, yang berjuang untuk haknya masing-masing dengan cara masing-masing.

  • terinspirasi dari novel Bandar milik Zaky Yamani –

——————————————————————

Ps: Surat-surat ini adalah postingan di akun instagram dalam rangka mengikuti tantangan #3oharibercerita selama bulan januari 2017. Sengaja dipindah ke blog agar lebih mudah didokumentasikan. Selamat menikmati!! 🙂

Advertisements

One thought on “#suratkeduapuluhdua

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s