Firman dan Bumi

S__8953860
Firman dan Bumi

Ini Firman dan Bumi (semoga aku tak salah mengeja nama mereka). Firman yang sebelah kiri, Bumi di sebelahnya. Mereka menawarkan dagangan, Kerupuk Jangek Rp 3500/bungkus. Kalau nggak tahu Kerupuk Jangek, itu adalah kerupuk kulit yang sering jadi temen makan Sate Padang. Kalau nggak tahu juga yang mana, yaudahlah.

Aku bertemu mereka di Warung Mie Aceh langganan. Bumi yang pertama menyapaku, ketepatan lagu ‘Naik Turun Challenge’ sedang berputar dari speaker si pemilik warung. Ia langsung meliuk-liuk di hadapanku. “Kek gini kak jogetnya, gini loh,” ujarnya sambil membelok-belokkan kedua tangannya. Aku melihatnya menari sambil tertawa pelan.

Firman menyusul kemudian. Sembari Bumi kemudian duduk di depanku, aku ngobrol-ngobrol dengan Firman. Firman dan Bumi masih sekolah, teman sepermainan, seumuran. Hanya Firman kelas 6 SD, Bumi kelas 5. “Harusnya kelas 6, Kak! Tapi, kebanyakan maen-maen jadinya gitu,” sambar Bumi.

Setiap hari mereka berkeliling. Kalau nggak mulai jam 2 siang ya 5 sore. Kalau beruntung, jam 11 malam mereka sudah tiba di rumah. Kalau sial, bisa lebih malam. Pokoknya diusahakan dagangannya habis sebanyak mungkin. “Kalau lagi bawa sikit dapetnya sikit kalau banyak ya banyak, Kak. Paling sikit 45 ribu, paling banyak pernah sampe 80 ribu,” jawab Firman.

Kalau kamu bukan orang Medan, bolehlah bayangkan jauhnya Mandala (rumah Firman) dan Medan Tembung (rumah Bumi) ke warung Mie Aceh di Pasar 1 Padang Bulan ini ibaratnya ujung Medan ketemu ujung satu lagi. Pulangnya naik angkot, pula.

Lalu, kalau pulang malam-malam gitu, enggak dicariin Mamak? “Enggak kak, mamak tahu kok,” sahut Firman.

“Udah setahun setengah awak jualan. Uangnya tiap malam dikasih ke Mamak. Ayah jualan kacamata, kalo Mamak di rumah aja. Awak anak keempat dari 6 bersaudara, Kak. Anak Mamak yang satu meninggal waktu kecil, jadilah sekarang kami cuma berlima.”

Kalau jualan tiap malam, kapan belajarnya? Firman tertawa, pun Bumi.

Sedangkan Bumi malah lebih semangat memintaku membuka facebook miliknya. “Ini efbi abang awak, Kak. Ini foto pacarnya. Abang awak udah tamat sekolah. Eh, Kak, cemana ini buka albumnya? Awak mau tunjukkan foto pacar awak lah,” sembur Bumi.

Aku tertawa, siapa namanya?

“Siti Halimah, Kak. Kawan sekelas awak. Awak cari aja efbi-nya ya. Eh, kok nggak ada, Kak? Di sini nggak ada, di warnet ada loh kak.”

S__8953861
Nyari efbi Siti Halimah

Setelah perjuangan tak menemukan facebook si ‘Siti Halimah’ aku pamitan pada mereka. Malam semakin larut dan aku tak ingin membuat mereka pulang lebih lagi.

Sebelumnya, ditengah perbicanganku dengan Firman, kuselipkan pertanyaan sebagai penutup. Tahun depan tamat SD dong ya, Firman mau ngapain nanti kalau udah besar?

“Nggak tahu kak,” ia menggeleng sambil tersenyum malu.

Oh, nggak apa-apa. Kamu masih punya waktu yang banyak untuk menentukan mau ngapain dewasa kelak, jangan terburu-buru dan senang-senang ya di sekolah.

Sampai bertemu lagi Firman, Bumi. Bahagia terus ya!

kulit sapi
Ini loh kerupuk Jangek 😀
Advertisements

11 thoughts on “Firman dan Bumi

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s