#terimakasihBandaNeira

screenshot_2017-01-01-18-17-24-544_com-instagram-android

#Kita Sama-sama Suka Berterima Kasih

Tulisan di atas adalah tulisan pesonal Ananda Badudu lepas keputusan beliau dan Rara Sekar untuk berpisah dalam naungan Banda Neira. Menyimaknya seperti mendengarkan seorang teman lama bercerita. Teduh dan menentramkan.

Dalam satu part tulisannya, Nanda katakan kalau dirinya tak menyangka bahwa lagu-lagu Banda Neira memiliki arti besar pagi para pendengarnya, termasuk menjadi soundtrack dalam fase-fase hidup untuk beberapa orang.

Nanda benar, lepas membacanya saya bahkan baru menyadari, sepertinya saya termasuk orang-orang yang menjadikan lagu-lagu Banda Neira sebagai soundtrack dalam fase-fase hidup. Bagaimana Banda Neira memiliki tempat sebagai teman perjalanan setiap pagi dan teman bercerita paling akhir sebelum tidur.

Rindu menjadi lagu pertama yang saya dengar dan idolakan hingga sekarang. Rindu dihadiahkan oleh seseorang, sebagai teman pengantar tidur. Disusul Senja di Jakarta dengan musik yang lebih ceria. Kemudian Di Beranda yang turut menemani hari-hari.

Bagaimana Kisah Tanpa Cerita, Sampai Jadi Debu, Berjalan Lebih Jauh dan Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti menemani dalam setiap proses melepaskan di tahun ini. Sebagai Kawan dan Esok Pasti Jumpa hadir dalam fase berdamai. Ada Matahari Pagi, Di Atas Kapal Kertas, Langit dan Laut, serta Benderang, yang selalu didengarkan di atas angkot dalam perjalanan berangkat dan pulang kerja.

Hujan di Mimpi, Ke Entah Berantah, Pelukis Langit dan Utarakan menjadi teman dalam setiap proses perenungan. Sisanya, Derai-derai Cemara, Pangeran Kecil, Tini dan Yanti, Mewangi, Biru Re: Langit dan Laut, Bunga, dan Mawar berhasil membuat saya tidur nyenyak lepas hari-hari yang panjang.

Akhir kata, saya bersama para pendengar lainnya mengucapkan #terimakasihBandaNeira. Saya jelas saja bohong kalau mengatakan saya tak kecewa dengan bubarnya Banda Neira. Apalagi saya belum berkesempatan melihat mereka bernyanyi secara langsung. Niatan untuk bersabar menunggu berakhirnya masa vakum demi cita-cita melihat mereka secara langsung pupus di tanggal 23 Desember kemarin. Tapi tak apa, semoga saya masih bisa melihat mereka bernyanyi kelak, meski tidak di bawah naungan Banda Neira.

Melepas Banda Neira adalah pelengkap di antara serangkaian perpisahan yang terjadi di 2016. Sama dengan perpisahan-perpisahan sebelumnya, selalu ada proses yang harus dijalani, kemudian diikhlaskan. Toh seperti kata Banda Neira, esok pasti jumpa karena kita harus tetap berjalan lebih jauh. Dan bukankah yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti, yang sia-sia akan jadi makna.

Medan, 1 Januari 2017

 

 

Advertisements

13 thoughts on “#terimakasihBandaNeira

  1. Saya juga suka Banda Neira 🙂 lagunya bagus-bagus. Liriknya keren. Sedih saat tahu mereka say goodbye, but yg penting karya karya Banda Neira masih bisa dinikmati. Yang paling favorite (diantara favorite lainnya) adalah Yang patah tumbuh, Yang hilang berganti. Kalau lg down dengerin lagu ini…adem….

    Liked by 1 person

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s