Saat Cita-cita Hanya Bisa Setinggi Atap Sekolah

1471903958926

Tarmizi Panjaitan, Kepala Sekolah MIS MPI KLEP Dusun X Desa Silau Baru Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan sudah kehabisan akal rasanya. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk menarik perhatian pemerintah agar setidaknya melirik kondisi sekolah mereka. “Tak pernah ada yang meninjau, begini-begini saja,” sahutnya.

Sekolah MIS MPI KLEP Dusun X adalah sekolah dasar terdekat dan satu-satunya di daerah tersebut. Itu satu-satunya pilihan masyarakat sekitar untuk bersekolah dibandingkan harus ke kota dengan akses transportasi yang tak memadai. Biasanya anak-anak yang sekolah di kota harus mengendarai sepeda sendirian dengan jarak tempuh lebih dari satu jam. Belum lagi kalau laut sedang pasang, tinggi air bisa mencapai lutut anak-anak.

Sama dengan kebanyakan sekolah di daerah pedalaman dengan akses yang susah dijangkau, kondisi bangunan MIS MPI KLEP Dusun X juga tak bisa dikatakan layak. Dibangun pada tahun 1988 atas swadaya masyarakat dan direnovasi terakhir kali pada 1999. Sekolah ini hanya terdiri dari satu bangunan memanjang. Ada lima ruangan di sana, tidak termasuk ruang guru. Satu ruangan digunakan untuk kantin dan sisanya adalah ruangan kelas yang dibagi untuk enam tingkatan kelas.

1471904250601
Pak Tarmizi, mengenakan baju dan peci putih.

Bangunannya jelas jauh dari kata kokoh. Beberapa ruangan dibuat dengan setengah beton dan sisanya papan. Sedangkan sebagian ruangan lain didirikan dari papan secara keseluruhan. Saat berkunjung ke sana, dari empat ruangan yang seharusnya digunakan untuk ruangan kelas, hanya tiga kelas yang kini dapat digunakan.

Tiga ruangan tersebut tetap tak bisa dikatakan ruangan yang nyaman. Dinding papannya bolong-bolong di berbagai tempat. Asbes dan atap ruangan kelas sudah lepas dimana-mana. Kursi dan meja juga ala kadarnya saja. Tiga ruangan kelas tersebut yang harus dibagi untuk 47 orang siswa.

Tiap ruangan diisi oleh dua tingkatan kelas tanpa sekat sebagai pembatas. Satu-satunya pembeda adalah posisi papan tulis yang kini warnanya sudah berubah menjadi warna putih kapur tulis karena sudah terlalu lama digunakan yang diletakkan di depan kelas. Kelas yang lebih tinggi dengan posisi papan tulis yang lebih tinggi dan kelas yang rendah dengan posisi papan tulis lebih rendah. “Mau bagaimana lagi. Kalau nggak gini nanti anak-anak kena seng dan asbes yang udah runtuh,” papar Tarmizi.

Dulu, pihak sekolah pernah mengajukan proposal ke pemerintah melalui DPR, tapi apa mau dikata, proposal yang dititipkan malah dikatakan hilang. Urusan birokrasi yang membelit menjadikan proposal tersebut tak tahu dimana rimbanya. “Kami ini, orang desa. Dibilang hilang, ya mau bagaimana lagi, hilang. Tak tahu lagi kami,” ucapnya.

Proposal tersebut dimaksudkan untuk mengaudiensi kondisi sekolah mereka, baik dari fasilitas hingga tenaga pengajar.

1471904166935

Kedatangan para relawan membuat Husin Situmorang, Kepala Dusun X senang. Menurutnya hal ini setidaknya akan memantik semangat para guru dan siswa yang ada. “Paling tidak, hal ini bisa menjadi perpanjangan tangan agar kelak sekolah kami dapat dibangun karena ya kondisinya seperti inilah. Sekolah mau ambruk, bangkunya amburadul,” tambahnya.

Salah satu yang turut terpancing semangatnya karena kedatangan para relawan adalah Nabila. Nabila memasuki usianya yang ke-11 tahun ini dan terdaftar sebagai siswi kelas 6 di MIS MPI KLEP Dusun X. Raut antusias jelas tergambar di wajahnya meskipun malam sudah menjelang saat para mengajaknya berbincang.

“Aku senang kakak-kakak datang ke sini. Bisa belajar, ada teman bermain. Aku juga sedih karena kakak-kakak mau pulang besok, tidak ada kawan main lagi. Tapi kami akan tetap mempraktekkan apa yang sudah dipelajari tadi pagi. Tetap rajin belajar dan tetap semangat,” paparnya.

Husin tak memiliki permintaan yang banyak selain agar kondisi sekolah diperbaiki hingga anak-anak nyaman untuk bersekolah. Juga agar honor guru ditambah, agar para guru juga sejahtera. “Kasihan anak-anak itu, mereka mau sekolah. Sekolahnya ya begini adanya.”


Note: tulisan ini awalnya dibuat untuk publikasi kegiatan volunteering di Medan, tapi karena satu dan banyak hal tak jadi dipublikasikan. Berbulan-bulan mengendap di laptop akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikannya di sini, tentu dengan sebelumnya izin pada yang berwenang. Barang kali satu dua orang akan terinspirasi oleh cerita ini. #halah

Isi tulisan sudah sedikit saya ubah dari naskah asli, supaya lebih cocok dan tidak terkesan ‘publikasi’ sekali, hehe.

Semua foto adalah dokumentasi Tim 1000 Guru Medan

Advertisements

6 thoughts on “Saat Cita-cita Hanya Bisa Setinggi Atap Sekolah

  1. Salah satu cita-cita terpendam saya pergi mengelilingi beberapa negeri di Indonesia. Mengajar. Berbagi. Wow, keren lah bisa seperti mba

    Liked by 2 people

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s