Masnun Panjaitan: Saya Bertahan di Sini Karena Anak-anak

1471904250601
Ibu Masnun, kedua dari kanan, mengenakan kerudung abu-abu.

Sejak mengajar dan terdaftar sebagai guru honorer pada 2003 silam, tahun ini tepat tahun ketiga belas Masnun mengabdi untuk MIS MPI KLEP Dusun X Desa Silau Baru Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan. Beruntung, setahun terakhir dirinya mengalami kenaikan jabatan, diajukan menjadi bendahara sekolah. Bersama Tarmizi Panjaitan sebagai kepala madrasah dan tiga guru lainnya yang masih sama-sama honorer, merekalah yang masih bertahan. “Demi anak-anak,” paparnya.

Masnun hanya tamatan Aliyah (setingkat SMA) yang kemudian melanjutkan pendidikannya hingga D2 saat sudah menjadi guru. Dulu, Masnun tak pernah kepikiran akan menjadi guru, namun pengalaman pribadi mengetuk pintu hatinya. Anaknya ingin bersekolah, namun kondisi sekolah tak memungkinkan karena tak ada yang mengajar. Untuk pergi ke kota yang lebih besar, tentu bukan pekara yang mudah. Jadilah Masnun mengajukan diri menjadi guru honorer, gajinya 50 ribu per bulan.

Sejak pemerintah menerapkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Masnun dan guru yang lain mendapat kenaikan honor, 300 ribu per bulan, diterima tiga bulan sekali, sesuai dana BOS yang dikeluarkan pemerintah. Jumlah ini tak pernah bertambah meskipun ia dan guru-guru lain sudah mengabdi selama puluhan tahun.

Dini Lestari Wanti Dhana, mahasiswi Universitas Negeri Medan (Unimed) ini baru pertama kalinya mengikuti kegiatan seperti ini. Dhini, biasa ia dipanggil, mengamini bahwa kondisi guru-guru di sana sangat kekurangan. Menurutnya hal ini bisa saja menjadi salah satu alasan mengapa guru-guru di sana kelihatan kurang bersemangat.

Dini cerita, malam setelah evaluasi, ia memberikan media pembelajaran yang paginya mereka gunakan kepada salah seorang guru. Jumlahnya berkurang, Dini sampaikan kemungkinan dibawa pulang oleh siswa, karena itu para guru dapat membuatnya kembali. Sang guru kemudian menjawab, kalau dirinya sendiri yang mengerjakannya akan tidak sanggup. Bisa jadi ini karena kondisi mereka yang serba kurang. Bisa juga karena mereka memang tidak terlalu menguasai metode pembelajaran,” tambahnya.

Dini berharap, pemerintah lebih memperhatikan guru-guru di sana, termasuk mendapat kesempatan untuk pelatihan metode pembelajaran agar dapat membuat media pembelajaran yang kreatif. “Ini penting, mereka (guru –red) akan jadi semangat dan siswa-siswa jadi makin rajin sekolah.”

Sebenarnya hal yang sama juga dikhawatirkan oleh Masnun. Ingin rasanya ia dan guru-guru lain mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan lagi, agar dapat memberikan hal lebih dari apa yang sudah diberi sekarang untuk siswa. “Ingin juga kami (guru-guru –red) kuliah lagi, menyediakan fasilitas yang lebih lagi untuk anak-anak, tapi apa daya, seginilah yang ada,” cerita Masnun.

1471904166935

Keinginan untuk melanjutkan pendidikan harus tertunda entah sampai kapan. Jarak dan biaya yang tak terjangkau menjadi penyebabnya. Kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan yang sangat minim membuat makin-makin bertambahlah hal yang menjadi kekhawatiran Masnun dan guru-guru lainnya. Ini dikarenakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mewajibkan setiap tenaga pengajar SD berpendidikan minimal Strata 1 (S1).

“Siapa yang tahu kami masih boleh mengajar. Siapa tahu nanti kami tak boleh lagi mengajar karena tak sarjana,” ucapnya sambil tertawa.


Note: tulisan ini awalnya dibuat untuk publikasi kegiatan volunteering di Medan, tapi karena satu dan banyak hal tak jadi dipublikasikan. Berbulan-bulan mengendap di laptop akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikannya di sini, tentu dengan sebelumnya izin pada yang berwenang. Barang kali satu dua orang akan terinspirasi oleh cerita ini. #halah

Isi tulisan sudah sedikit saya ubah dari naskah asli, supaya lebih cocok dan tidak terkesan ‘publikasi’ sekali, hehe.

Semua foto adalah dokumentasi Tim 1000 Guru Medan.

Advertisements

6 thoughts on “Masnun Panjaitan: Saya Bertahan di Sini Karena Anak-anak

  1. Jangankan di daerah, mbak…
    Di ibu kota negara tercinta ini, masih banyak yang gajix di bawah UMP..
    Bahkan ada guru lbh dr 15 tahun cuma honor murni…
    Gajix hanya berdasarkan belas kasihan kep- sek…
    Miriskan…

    Liked by 1 person

      1. Betoel itu…
        Yg namax guru pan bkn d skull n dllx..
        Malah madrasah plng baik, y… Ibu qt..
        Tp emak” skrng lbh mentingin shoping, mutihin muka n banyak”n krincing”x…
        Anak??? Ntu mah yg k sekian…
        Astghfrllh…

        Liked by 1 person

      2. tapi insyallah masih banyak yang peduli dengan pendidikan anak bangsa ya mbak. Di Medan ada gerakan mengajar yang diinisiasi seorang guru sekaligus ibu rumah tangga, namanya Ibu Mengajar. Yang dipikirkan sama dengan yg mbak bimbim sampaikan, bahwa semua org bisa jadi guru, dan pendidikan anak memang dimulai dari ibunya 🙂

        Liked by 1 person

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s