Par(a)no(id)

Ceritanya; saya kecelakaan. Ditubruk motor. Sepeda motor.

Paranoid menyerupai paranoia; penyakit membayangkan sesuatu, penyakit khayal. Begitulah kira-kira artinya menurut KBBI.

Saya punya paranoia tersendiri. Dulu misalnya, saya akan panik kalau petir datang (apalagi disertai guntur, gledek, kilat dll). Ini sebabnya saya tak suka hujan. Terus, paranoia pada gelap (ini sampai sekarang). Otak saya akan bekerja lebih cepat menggambarkan segala macam imajinasi saat gelap. Ini seperti ini, itu kayak begitu. Lorong itu ada ini, lorong ini ada itu. Begitu-begitu. Terakhir, saya paranoia saat menyebrang jalan.

Saya selalu membayangkan, apa jadinya kalau saya tiba-tiba disambar kendaraan, kalau kaki saya tergelincir dan kemudian kendaraan menyambar saya, apa jadinya kalau saya tak sengaja jatuh dari jembatan penyebrangan, apa jadinya kalau saya terpleset dan jatuh ke jalan raya, ditabrak, saya berserakan. Yah begitu-begitu. Pikiran-pikiran ini terus saja menghantui setiap kali saya menyebrang jalan.

Biasanya semua khayalan dan bayangan tak pernah terjadi. Tapi, untuk yang terakhir, tak terjadi seperti biasanya. Jadi begini ceritanya.

Dua malam lalu, tepatnya Jumat malam, malam Sabtu, saya tak langsung ke kos sepulang kerja. Seorang teman mengajak ke salah satu mall di Medan, ada yang mau dikunjunginya. Berhubung rencana saya sebelumnya-rapat dengan anak-anak komunitas-gagal, jadilah saya mengiyakan. Kami ngalor ngidul di sana sampai pukul 10 lewat, ia aantar saya sampai di depan gang kos-an.

Biar kawan-kawan bisa membayangkan. Kos-an saya terletak di dalam gang perumahan, tepat di sebelah kampus swasta. Di depan gang adalah jalan raya, jalan lintas kota sebenarnya, maka selalu ramai. Apalagi ada pusat pasar murah khusus mahasiswa yang ada di daerah situ (semacam tetangganya kos) yang gak pernah sepi dan selalu macet. Pokoknya, lalu lintasnya kacau.

Orang Medan punya kebiasaan berkendara yang saya enggak tahu belajar dari siapa. Suka melawan arus lalu lintas hanya karena malas muter di persimpangan. Jadi, kalau mau nyebrang jangan cuma lihat kanan atau kiri. Tapi harus lihat kanan dan kiri. Tingkat paranoia saya meninggi setiap kali menyebrang. Rasanya enggak cukup cuma punya 2 mata.

Malam itu, berhubung saya lapar dan di kos tidak ada makanan, saya putuskan singgah ke rumah makan Padang di seberang jalan. Sebenarnya saya sudah mikir, lebih baik beli di warung yang tidak perlu nyebrang. Tapi ada kebutuhan lain yang harus saya beli di warung yang ada di seberang.

Urusan beli membeli selesai, saya bersiap-siap nyebrang, mau pulang. Malam itu lalu lintas tak seramai biasanya, mungkin karena sudah malam dan itu hari kerja. Setelah celingak celinguk kanan kiri, lepas motor terakhir lewat, saya putuskan untuk nyebrang. Mumpung jalanan kosong (kendaraan masih jauh sekali).

BRAKKK!!!

Tepat kaki kanan melangkah, saya merasa digampar dengan sangat keras di kepala sebelah kiri. Niatnya, saya ingin lihat ada apa. Tapi kok rasanya, digamparnya beruntun. Sampai saya sadar, saya sudah tergeletak di aspal dengan posisi miring, badan sebelah kanan jatuh kena aspal. Kepala sudah di aspal, tangan kanan sudah terentang dengan kantong plastik berisi makanan yang baru saya beli sudah penyet.

Saya ditabrak.

Karena ceritanya panjang banget, saya bagi 2. Cerita selanjutnya di sini yaa 🙂

Advertisements

One thought on “Par(a)no(id)

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s