Par(a)no(id) Part II

Karena ceritanya panjang banget, jadi saya bagi 2. Ini cerita sebelumnya yaa πŸ™‚

Saya enggak ingat, berapa menit saya terjatuh. Yang saya ingat, orang-orang berkerumun. Pengendara motor yang nabrak berusaha mengangkat saya. Tapi entah kenapa badan ini enggak bisa digerakkan. Hingga akhirnya saya dipaksa berdiri dan didudukkan di kursi pemilik warung Padang tempat saya beli makanan.

Saya gemetaran. Kaki rasanya enggak ada. Tangan sakit (yang kemudian baru saya sadari, tergores-gores kena aspal), yang paling terasa tentu saja, kepala dan badan yang bahkan saya tak tahu dimana yang sakit, semuanya sakit.

Setelah dikasih minum, yang langsung saya tandaskan, pasangan pengendara motor tadi minta maaf, berulang-ulang dan berniat mau antar pulang. Kemudian si cewek, membersihkan baju dan celana saya yang berlumpur karena jatuh.

Saya enggak bisa mikir, yang ada di kepala cuma gimana caranya saya cepat pulang, sampai di kos, mandi dan tidur. Sambil menahan sakit, saya coba bersihkan luka dengan tisu basah di dalam tas. Untung segala macam barang sebelumnya saya masukkan di dalam tas, jadi tidak ada yang tercecer.

Saya enggak tahu mau apa, gemetarannya enggak berhenti. Rasanya air mata sudah mulai menggenang. Sambil berulang2 kali minta maaf, pasangan motor tadi bercerita. Kalau tas si kakak talinya tiba-tiba putus dan mereka ingin putar balik untuk ambil tasnya. Tiba-tiba ada saya di belakang dan jadinya begitu.

Sontak saya minta maaf, saya bilang saya enggak hati-hati. (Ini kebiasaan saya, suka minta maaf, agar urusan cepat kelar). Di tengah-tengah pembicaraan yang dikerubungi banyak orang itu, sayup-sayup saya dengar si abang (pasangannya kakak tadi) bilang kalau ini salah berdua, bahwa saya enggak lihat-lihat kalau ada motor dan dia enggak hati-hati mau putar balik. Rasanya saat itu saya pengen nimpuk kepalanya pake sepatu saya yang sudah putus sebelah. Saya?! Enggak hati-hati?! Dia melawan arus, kok jadi saya yang salah?! Tapi ya sudahlah, saya enggak ada niat untuk mendebat. Saya ingin pulang.

Setelah cukup pede bisa jalan sendiri, saya langsung izin pulang. Mereka bersikukuh ingin mengantar pulang, saya enggak mau. Toh, kosan sudah di seberang. Saya tinggal nyebrang dan sampailah. Akhirnya saya jalan pulang, dengan kaki tertatih (karena nyeri dan sepatu putus). Saya diem aja, tetap pede meski baju berkubang lumpur.

Tak sampai lima menit, tiba di dalam gang, saya ambil hape di dalam tas, baterenya merah, tinggal 7β„…. Saya lihat ada pesan masuk. Saat itu, ada beberapa nama yang terlintas di kepala. Tapi akhirnya saya hubungi seseorang. Untung langsung diangkat, menjawab panggilannya saya langsung menangis. Entah kenapa, takut sekali rasanya saat itu. Ditambah sakit yang gak berhenti. Teman saya, dia putuskan datang malam itu juga.

Sambil menunggu ia, saya berdiri di depan gerbang kos, meletakkan barang-barang dan akhirnya sesunggukan sambil jongkok. Untungnya tak banyak yg lalu lalang malam itu. Hanya ada satu dua orang yang masih berkunjung ke kos sebelah. Bodo amat, paling mereka bingung saya nangis kenapa.

Cukup lama untuk menguras habis kantung air mata. Setelah memastikan saya ‘cukup’ baik, saya naik ke atas (kos saya di lantai 2). Memutuskan untuk mandi (dengan susah payah) dan kemudian tidur. Saya tak jadi makan, meskipun saya baru sadar kantong plastik tempat makanan saya ternyata sudah diganti, karena sebelumnya penyet saat jatuh.

Oh iya, ucapan terima kasih saya haturkan untuk teman baik hati malam itu. Terima kasih sudah memastikan saya baik-baik saja.

Esoknya saya periksa ke klinik, karena leher belakang sebelah kiri juga kepala bagian belakang sakit. Juga pundak kanan. Setelah periksa, dokter bilang enggak apa-apa. Saya cuma shock, tak ada luka-luka yang parah, hanya memar yang kemungkinan penyebab badan sakit. Dokter menitipkan beberapa obat yang harus saya minum, antibiotik dkk.
Kini, setelah dua hari, saya merasa biasa saja. Memang kepala masih pusing dan pegal badan makin terasa, tapi kata dokter gak apa, jadi saya gak terlalu ambil pusing.

Ini pengalaman ketiga saya ditabrak motor. Pertama kali, saat SMA, menyebabkan saya tak berani belajar naik motor (yang sampai sekarang tak saya kuasai). Kedua, buat saya parno naik sepeda (yang sampai sekarang kalau naik sepeda masih gemetaran), padahal sudah 2 tahun lalu. Waktu itu saya ditabrak saat naik sepeda. Ketiga, ya ini. Jadinya sekarang saya membutuhkan waktu lebih lama dibanding sebelumnya untuk nyebrang jalan.

Seiring cerita ini, saya juga ingin sampaikan maaf, karena edisi puisi ala-ala seminggu harus terhenti, tapi akan saya lanjutkan, pasti. Ini dikarenakan lepas kecelakaan itu, saya susah megang sesuatu apalagi hape (karena telapak tangan tergores aspal). Dan ini saya nulis karena tidak bisa tidur, hehe.

Segitu dulu ceritanya. Sampai ketemu lain waktu. Bubye. Peluk hangat di tengah hujan-nya Tanah Deli.

Ps: saya enggak tahu, apa ini termasuk menyakiti diri sendiriΒ atau bukan, hehe.

Pss: ada satu pelajaran yang saya petik. Kalau lain kali saya kecelakaan lagi, paling tidak si penabrak harus bawa saya ke klinik. Tidak usah tidak enak hati. Pelajaran ini saya dapat hasil direpeti dua orang teman karena saya tidak langung ke klinik malam itu juga.

Sepatu yang malang :(( Sebenarnya dibanding mau diantar ke klinik, malam itu sangat berharap sepatu yang diganti. Setengah kekecewaan malam itu diakibatkan oleh ini. Sepatu yang baru saja dipakai hari itu, dan sudah diinginkan entah sejak kapan. Beklah, ada baiknya nabung lagi supaya bisa beli lagi, hahahaha
Advertisements

5 thoughts on “Par(a)no(id) Part II

    1. iyambak, terima kasih 😳😳 emang hidup saya banyak kejadian anehnya hihi πŸ˜‚ semoga kita semua sehat2 selalu, supaya bisa bahagia selalu 😎

      Like

  1. Waah sabaar ya yunii..dulu saya juga pernah tertabrak sepeda motor gara2 ada yang potong jalan nggak liat-liat…seluruh badan rasanya sakittt semua. Langsung pijat deh malam itu juga. Sama kayak kamu, pengendara motor yang nabrak cuma minta maaf dan pergi. Padahal jelas salah tuh, hmm.ya sudahlah malah jd curhat hehe

    Liked by 1 person

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s