#16 Dear Ibu


Dear ibu,

Mungkin aku adalah anak yang paling durhaka terhadap ibu. Mungkin aku adalah anak yang paling kurang ajar terhadap ibu. Bisa jadi, bisa jadi. Aku juga sadar, di 22 tahun usiaku ini entah apa yang sudah kuberikan padamu. Aku juga sadar, di 22 tahun usiaku ini berapa kali aku menadahkan tangan padamu.

Aku tak punya banyak kenangan manis bersama ibu. Sedari kecil, aku sudah sangat jarang bersamanya. Membesarkanku sendirian mengharuskannya mencari kerja hingga ke kota sebelah. Bertemu seminggu sekali di akhir pekan. Jadilah aku hidup bertiga bersama kakek dan nenek. Aku ingat, ibu selalu membawakanku berbagai macam permen di dalam plastik putih yang diberikannya saat pulang.

Aku ingat aku berangkat mendaftar SD ditemani Ibu meski umurku belum cukup. Aku merengek minta dibelikan seragam merah putih hanya karena Bang Alvin -sepupuku- sudah sekolah duluan. Aku ingat ibu bilang pada guruku, “Tidak usah naikkan kelas saja dia bu, kalau tak bisa mengikuti pelajaran.” Siapa yang menyangka aku justru jadi juara kelas.

Besar tanpa Ayah yang sering kali menyulitkannya menjadikanku ingin selalu membanggakannya. Enam tahun kuhabiskan dengan menjadi juara umum.  Saat itu adalah saat-saat paling indah dalam hidupku. Saat itulah memori indah bersama ibu yang kumiliki.

Aku ingat, aku mulai belajar membaca, menulis dan berhitung di umur 4 tahun. Aku ingat ibu yang mengajariku saat itu. Aku ingat, belajar mengaji di kelas 2 SD. Aku juga ingat ibu yang mengantarkanku ke madrasah sore itu. Aku ingat, siang hari sebelum berangkat madrasah, ibu akan meneriakiku. Memastikanku sudah makan siang, sudah mandi dan berganti seragam. Tak lupa ia mengikat rambutku, menguncirnya tinggi-tinggi. “Supaya rambutnya tak berantakan,” katanya. Aku ingat aku selalu marah dan cemberut saat rambutku diikat seperti itu. Aku tak suka disebut ‘pocong’ oleh teman-temanku hanya karena ikatan rambutku menonjol tinggi di dalam jilbab.

Aku ingat, setiap sore lepas madrasah, ibu akan mengizinkanku untuk bersepeda bersama yang lain, dengan catatan, harus sudah pulang sebelum Maghrib. Aku ingat malam harinya aku boleh bermain tanpa harus mengkhawatirkan tugas sekolah, karena sudah kuselesaikan siang harinya.

Aku ingat ibu kerap mengajakku berbelanja seragam sekolah, sepatu, tas, baju, buku dan lain-lain. Aku ingat setiap bulan, kami akan jalan-jalan di supermarket terbesar di kota kecilku. Membelikanku banyak sekali makanan. Aku ingat, ibu menyuruhku menabung setiap bulan puasa, agar aku punya cukup uang untuk membeli komik pada hari lebaran.

Aku ingat, dulu setiap pulang sekolah, aku selalu bercerita tentang sekolah. Tentang guru-guru, teman-teman, pelajaran, semuanya. Tak ada yang kulewatkan. Aku ingat, setiap lebaran, ibu menyuruhku mengajak teman-teman sekelas main ke rumah. Aku juga ingat, ibu ingat nama-nama teman-teman sekelasku.

Aku ingat setiap menjelang lebaran, ibu akan memintaku diam di rumah untuk membantunya mengerjakan ragam kue lebaran. Bertiga kami akan mengerjakannya bersama nenek. Aku juga ingat, setiap memasak hidangan lebaran, ibu akan menyisihkan hati dan jeroan ayam untukku seorang. Aku ingat ibu tahu aku suka hati dan jeroan ayam.

Aku ingat, ibu tahu aku suka membaca. Karena itu ibu dan nenek tak pernah memarahiku saat aku berjam-jam berdiam diri di kamar untuk membaca. Aku ingat, ibu hanya marah saat jam makan siang sudah lewat dan aku tak beranjak untuk makan. Setelah makan, aku ingat, ibu memperbolehkanku untuk lanjut membaca.

Aku ingat, aku dan ibu berangkat bersama ke sekolah untuk mengambil ijazah SD dan langsung berangkat untuk mendaftar SMP. Aku ingat ibu bertanya, “Mau sekolah dimana?” “SMP 4,” jawabku mantap. Kami langsung bergegas ke sana.

Aku ingat, itu adalah terakhir kalinya ibu berkunjung ke sekolahku. Karena sesudahnya, Ibu tak pernah mengantarku, menjemputku, atau menemaniku di sekolah.

Aku ingat, saat aku umur 10 tahun ibu bertanya padaku, apa ibu boleh menikah lagi? Aku hanyalah anak umur 10 tahun, yang tak pernah merasakan punya Ayah, merasakan sulitnya Ibu hidup sendirian lantas mengangguk. Apapun demi kebahagiaannya.

Tapi hidup tak selalu berjalan mulus dengan indahnya. Aku tak suka dia, suami ibu yang baru.

Hanya dua tahun aku hidup bersama mereka. Tapi aku ingat, ibu selalu kerap menangis. Aku ingat ibu selalu kesusahan. Aku ingat suami ibu yang baru ringan tangannya, kasar perangainya, tak baik tabiatnya. Aku sangat benci dia. Aku ingat, di ujung kekesalanku, aku pernah menerjang suami ibuku saat dia dan ibu sedang beradu mulut. Aku ingat, dia memukulkan kumparan kawat ke ibuku. Aku ingat, aku menantangnya. Beruntung, dia masih sedikit waras, dia tak ingin terlibat hukum hanya karena memukuliku yang bukan anak kandungnya.

Aku ingat, saat ibu melahirkan adikku. Ada Sila dan Dira. Aku senang sekali memiliki mereka. Bertahun-tahun menjadi anak tunggal membuatku menjaga mereka dengan segenap hatiku. Tapi lagi-lagi Tuhan belum berbaik hati.

Suami ibu yang gila itu kerap melampiaskan marahnya pada adik-adikku. Hanya aku yang tak kena pukul di rumah itu. Jadilah aku yang selalu adu mulut dengan suami ibu. Aku ingat, ibu selalu menangis. Adik-adik selalu menangis. Aku ingat, ibu pernah mengajak kami pergi dari rumah dan kembali ke rumah nenek. Tapi entah apa yang dipikirkan ibu, ibu kembali padanya saat dijemput kembali. Saat kutanya, “Kasihan dia, siapa nanti yang mengurusnya saat keluarganya pun sudah tak peduli padanya.” Aku ingat, aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu.

Aku ingat, saat aku kelas 2 SMP, ibu memutuskan pindah ke Kerinci, ikut suaminya karena mendapat pekerjaan di perkebunan. Aku memutuskan tak ikut, karena sekolahku sedang di tengah semester dan di sana hidup jauh dari perkotaan. Akan susah mencari sekolah. Aku ingat, aku terpisah dari ibu sejak saat itu.

Aku ingat, aku masih rajin berkirim surat via pos dengan ibu saat itu. Tapi aku juga ingat, adikku kerap melapor kalau ibu masih sering menangis. Hidupmu tak kunjung membaik ternyata bu.

Aku ingat, seiring bertambahnya umurku, aku punya kuasa atasmu. Kuancam suamimu agar tak macam-macam padamu dan adik-adikku. Lama waktu berselang, butuh bertahun-tahun untuknya berubah menjadi seperti sekarang, punya sedikit kewarasan.

Seiring waktu juga hubungan kita berubah. Jarak mengubah semuanya. Aku yang dulu sering sekali bercerita kini tak bisa bercerita padamu. Aku menjadi mandiri dengan sendirinya. Aku menjadi tertutup dengan sendirinya. Aku memutuskan semua keputusan dalam hidupku sendirian. Aku tak pernah bercerita apa-apa lagi. Selain karena komunikasi yang sulit, aku juga sulit menceritakan semuanya dari awal kembali. Jadilah aku diam saja, menyelesaikan semuanya sendirian.

Seiring umurku bertambah, aku dan ibu sering sekali bertengkar. Sejujurnya, aku sedang cemburu pada adik-adikku. Mereka memiliki begitu banyak kenangan bersama ibu, sedangkan aku tidak. Aku benci ibu ada bersama mereka tapi aku ditinggal sendirian. Hal ini menjadikan semacam amarah yang menumpuk sedikit demi sedikit. Ada saja yang kukecewakan dari ibu.

Aku ingat ibu sering berjanji padaku. Mulai dari hal-hal kecil yang hanya untuk menyenangkanku hingga hal-hal yang krusial. Lalu ibu sering melupakannya. Aku tak tahu, mungkin ibu tak ingat kalau aku tak suka saat ibu seperti itu. Saat ibu mengatakan tidak, aku akan menerimanya, mencoba mencernanya. Tapi akan sangat menyakitkan saat ibu sudah berjanji dan tidak memenuhinya.

Aku ingat, kita sering sekali bertengkar. Atau lebih tepatnya aku yang marah, ibu hanya diam mendengarkan. Aku juga marah saat ibu seperti itu. Ibu seperti tak mendengarkanku, seperti dengan sengaja diam agar aku tak melanjutkan omelanku. Aku tak suka bu.

Seorang teman pernah memarahiku. Dia bilang aku harus mengerti posisi ibu. Dia bilang aku harus berpikir dari sudut pandang ibu. Karena itu aku berusaha melakukannya. Aku berusaha tak merepotkanmu dengan kesusahanku, dengan semua cemburu tetek bengekku. Aku berusaha tak mengganggumu. Tapi waktu memang sudah berubah, bu. Kita tak lagi sama.

Sekuat apapun aku mencoba untuk mengerti kondisimu, aku masih tak habis pikir kenapa kau bahkan terkesan tak memikirkanku? aku coba berbaik sangka, tak mungkin kau tak mengkhawatirkanku. Tapi nyatanya begitu bu.

Aku ingat, aku membencimu dengan sangat. Aku ingat tak suka Hari Ibu karena dirimu. Aku ingat, aku ingin menjadi orang sukses, membangun keluarga, dan tak akan kuperlakukan anakku seperti perlakuanmu padaku. Aku ingat, banyak motivasi hidupku yang kulakukan karenamu.

Aku ingat, pagi ini kita kembali bertengkar. Untuk alasan yang sebenarnya sama seperti dulu-dulu sekali. Tapi entah kenapa, rasanya setan menghinggapi kepalaku hari ini. Semua kecewa, sedih, tekanan yang bertahun-tahun kusimpan sendiri seperti menghambur begitu saja.

Aku ingat pernah bilang bahwa aku menyesal punya ibu sepertimu. Kata-kata yang sangat kusesali kemudian. Aku ingat, aku memelukmu sambil nangis lebaran lalu. Aku juga ingat tadi pagi kubilang padamu, tak perlu repot-repot memikirkanku. Hidup saja bersama suami dan anak-anakmu di sana. Sebisa mungkin aku tak akan merepotkanmu.

Aku ingat, aku sering menangis tengah malam hanya karena mengingatmu. Bisa jadi karena marahku, kecewaku, sesalku, atau rinduku.

Aku ingat bu, aku ingat aku punya ibu. Tapi aku tak ingat aku pernah menganggap siapapun jadi Ayah. Karena itu aku tak suka saat dia ikut campur.

Aku ingat bu, mungkin aku sudah sangat keterlaluan. Karena itu, tak lupa kuselipkan maaf saat aku menutup telepon tadi pagi.

Ibu, maafkan kakak karena sudah sangat kurang ajar padamu. Aku tak menyangka kondisinya akan menjadi seperti ini. Surat ini kutulis bukan karena ingin kutunjukkan padaku (ya mungkin nanti, entah kapan) surat ini kutulis karena aku ingin menekan air mataku, agar tak turun saat aku masih harus duduk di kantor mengerjakan tugas-tugasku.

Nanti bu, saat aku sudah lebih waras. Saat keadaan sudah tenang. Saat aku sudah lebih baik, akan kubawa ibu dan adik-adik jauh dari sosok bernama Ayah.

Sayang Ibu selalu.

Dari Kakak, yang sedang menyesal dan merindumu, Bu.

Advertisements

11 thoughts on “#16 Dear Ibu

      1. hahaha, momen paling menyenangkan ya seperti ini yaa. saat ada orang yang mengerti dan tidak berusaha untuk sok mengerti, heuheu.
        kata tokohnya makasih banyak kak, dia bilang senang sekali 😀

        Liked by 1 person

      2. hihii.. Alhamdulillah tokohnya senang.. Bersenang di atas kesedihan itu ada baiknya loh.. tapi di atas kesedihan sendiri yaa.. Saat berhasil tersenyum, justru kita menang telak. Semangat para jawara~ 😀 *tepoktepok tokohnya biar makin semangat hahha .___.

        Liked by 1 person

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s