#4 Sepucuk Rindu di Pucuk Waktu

20-01

kita pernah berhujan berdua
mungkin kau masih ingat dinginnya
menusuk tulang, mengkerutkan jari
tapi lebih dingin dari merindumu

kita pernah bernyanyi berdua
lagu yang hanya untukmu saja
walau telah usang ditelan hari
ku nyanyikan lagi karena merindumu

berkali sudah ku bunuh
berkali itu pula ia hidup
dan meratah otakku, meminum akalku

berkali telah ku obati
berkali pula ia lagi, perih
dan semakin menjadi, semakin menjadi

kita pernah berdua tertawa
mungkin karena telah lelah berduka
keringlah mata saat bersama
basah lagi ia karena merindumu

kita pernah berdua terluka
atau hanya aku yang berdarah
melihat ada bagai tiada
robek lagi luka saat merindumu

berkali sudah ku bunuh
berkali itu pula ia hidup
dan meratah otakku, meminum akalku

berkali telah ku obati
berkali pula ia lagi, perih
dan semakin menjadi, semakin menjadi

berkali sudah ku bunuh
berkali itu pula ia hidup
dan meratah otakku, meminum akalku

berkali telah ku obati
berkali pula ia lagi, perih
dan semakin menjadi, semakin menjadi

 

 

 

*dipopulerkan oleh Coffternoon, band Indie asal Pontianak dalam album Tentang yang Tak Dikata pada Januari 2016

Advertisements

4 thoughts on “#4 Sepucuk Rindu di Pucuk Waktu

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s