#3 Dongeng Secangkir Kopi

 1470242198478.jpg

“Aku capek.”

Cangkir Marocchino milik Ry baru saja diteguknya saat ia mengatakannya. Aku yang asyik menyesap Mochaccino sejak tadi hanya diam sambil melihat ke arahnya. Aku berdiam sebentar.

“Perihal apa?” tanyaku.

“Diriku sendiri, dan dia,” kali ini Ry menjawab sambil menelungkupkan kepalanya ke arah meja. Kini wajahnya tak terlihat olehku.

“Aku capek, Sa. Aku capek harus seperti ini terus. Apa menurutmu aku terlihat begitu menyedihkannya? Aku tak suka, Sa. Aku tak suka saat orang-orang memandangku seperti itu.” Ry sontak menangis.

Aku diam, kubiarkan Ry terus bercerita.

“Apa sih dia? Apa sih orang-orang? Tak bisakah biarkan aku sendirian? Ooh Sa. Aku ingin sekali pergi, pergi jauh dari sini. Tak ingin aku bertemu dengannya, apalagi orang-orang. Semuanya terasa salah, Sa. Orang-orang membuatku berpikir semuanya serba salah. Aku tak mengerti. Sama sekali tak mengerti.”

Kali ini Ry bercerita tanpa menyentuh minumannya sama sekali.

“Apa salahku Sa yang memutuskan untuk melepaskannya? Apa salahku Sa yang memutuskan untuk membiarkannya pergi? Aku tahu Sa aku kecewa, kecewa sekali. Aku marah, sedih, nangis berhari-hari dan merutuk terus-terusan. Tapi masa itu kan sudah lewat Sa, aku sudah belajar. Belajar ikhlas, belajar berdamai. Aku sudah putuskan untuk memaafkannya, Sa. Berdamai dengan diriku sendiri, dengan dirinya, dengan orang-orang, dengan keadaan. Aku capek, Sa,” Ry tersenggal, sesekali menghapus air mata dengan tisu di tangan.

“Tapi rasanya berat sekali. Bukan, bukan karena aku belum menerima keadaan, tapi karena orang-orang tak turut membantuku, Sa. Setiap kali aku bertemu dengan mereka, mereka hanya menatapku dengan nanar, tersenyum datar. Seakan-akan berucap, “aku turut berduka untukmu.” Apa itu? Tak bisakah mereka berhenti berpura-pura seperti tak tahu apa-apa? Tak bisakah mereka berhenti memandangiku dengan wajah kasihan? Mereka yang seperti itu semakin mengingatkanku betapa aku seperti ini.”

“Aku harus bagaimana, Sa? Aku juga tak suka saat orang-orang melihatku, memandangku kasihan, sekaligus menyalahkanku. Menjadikanku orang di antara mereka. Aku? Aku? Yang benar saja. Mereka tak tahu perasaanku, Sa. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tak berhak memperlakukanku demikian hanya karena ….” Ry menarik napas perlahan. Sebentar ia batuk karena tersedak.

“Minum kopimu, itu akan membantu,” ucapku.

Ry meminumnya, menyesap habis sekaligus.

“Sa, menurutmu apa aku salah?”

Aku diam. Kupandangi Ry sekali lagi. Karibku yang satu ini baru saja berpisah dengan kekasihnya. Kekasih yang awal sekali diyakininya sebagai dermaga terakhir. Kekasih yang hadir dengan citra sempurna luar biasa. Kekasih yang dibangga-banggakannya. Kekasih yang ia sayangi. Kuselesaikan sesapan terakhir kopiku.

“Tidak, Ry. Bukan salahmu. Untuk apa kau menahannya saat dia inginnya terlepas.”

Kekasih yang lebih memilih orang lain, dibanding dia.

 

 


footnote: sebenarnya hari ini saya tak berencana untuk sibuk, makanya saya tak menyiapkan tulisan di malam sebelumnya, tapi entah mengapa ada banyak yang harus dilakukan. jadilah saya baru mengerjakan tulisan untuk hari ketiga ini di malam hari menjelang tengah malam. maapkeun saya karena telat. saya (berusaha) berjanji, postingan yang besok-besok tidak akan terburu-buru seperti ini. :”

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s