[s i s a] keikhlasan

image

Sumber foto: Istimewa

Beberapa hari yang lalu aku menemukan sebuah surat. Tergeletak begitu saja di sela-sela buku yang ada di perpustakaan kampusku, Fakultas Ilmu Budaya. Kebetulan sekali rasanya aku bisa menemukan surat itu di sana. Padahal siang itu aku ke kampus cuman ingin bertemu teman lama yang sudah pindah ke fakultas lain, meski masih sekampus. Tapi rasanya sudah sangat lama sekali kami tak bertutur sapa, jadilah siang itu dipilih untuk waktu bertemu. Apalagi katanya, ada sesuatu hal penting yang mau didiskusikan.

Devi, nama temanku itu belum datang saat aku tiba di perpustakaan. Karena bosan, kuambil saja novel The Sherlockian karya Graham Moore yang baru kubeli beberapa hari lalu. Dan memutuskan untuk mojok di pojok perpustakaan.

Perpustakaan fakultasku memang tak luas, namun di deretan rak paling belakang adalah tempat sempurna untuk beristirahat, sembunyi lebih tepatnya. Posisi petugas perpustakaan terlalu jauh untuk bisa melihat apa yang kau lakukan di sana. Kalau kau cukup berani, kau bisa sambil tiduran di pojok itu. Tapi aku memilih untuk menunggu sembari membaca petualangan para anggota Laskar Baker Street memecahkan misteri kematian Conan Doyle, si jenius yang melahirkan jenius lainnya, Sherlock Holmes.

Suasana Medan yang gerah—setiap hari gerah—semakin menguatkanku untuk menyembunyikan diri di pojok perpustakaan. Lumayan, sekalian ngadem. Apalagi ditambah fasilitas wifi yang bisa digunakan free. Cukuplah untuk mengupdate semua versi terbaru aplikasi di handphone pintarku. Hehe . . . .

Hampir saja aku tertidur saat mataku menangkap lembaran kertas di antara tumpukan buku-buku di rak belakang. Oke, biar kuberi tahu. Isi dua rak terakhir perpustakaan fakultasku berisi kitab-kitab berpuluh-puluh jilid yang tebalnya cukup untuk dijadikan bantal—yang ini aku serius, soalnya sering dipakai kalau tiduran di pojok belakang perpustakaan.

Aku rasa tak banyak yang mau membaca kitab-kitab berisi aksara mandarin itu, makanya wajar saja semua permukaannya berdebu. Semuanya. Ini aku juga serius.

Kertas berwarna putih itu terlihat mencolok di antara deretan sampul kitab berwarna merah bata. Karena penasaran, kuambil saja. Ternyata sebuah amplop. Tanpa tulisan apapun di atasnya.

Karena penasaran (lagi) dan lancang (tentu saja) kubuka amplop tersebut dan menemukan sebuah kertas di dalamnya. Sepertinya surat. Mana tahu kalau kubuka akan kutemukan untuk siapa ditujukan surat tersebut.

Hei, niatku baik kan? Yaah, meski tetap saja aku sangat tak sopan. Tapi aku benar-benar penasaran! Siapa yang sengaja meninggalkan surat di sini? Atau mungkin saja tak sengaja.

Tak butuh waktu lama membaca keseluruhan isi surat. Hanya ada beberapa baris tulisan di tengah-tengah kertas berwarna putih garis-garis biru tersebut. Seperti ini bunyinya:

Dear you,
Kau pernah bilang karena inilah hubungan seperti ini layak untuk dijalani. Kita memiliki banyak cara untuk berkomunikasi. Karena itu, izinkan aku menggunakan salah satu cara itu untuk menyampaikan sesuatu.

Aku tak menyesal mengenalmu, juga tak menyesal menghabiskan waktu denganmu. Aku tak menyesal menganggapmu seseorang yang penting dalam hidupku, pun juga tak menyesal saat aku menjadi orang itu untukmu. Dan yang paling utama, aku tak menyesal kita berpisah, seperti ini. Karena itu ini akan jadi kali terakhirku seperti ini. Aku akan kembali meneruskan hidupku.

Kau . . . hiduplah dengan baik. Aku juga akan hidup dengan baik.

Sebelumnya, meninggalkan surat ini di perpustakaan fakultas memang kusengaja. Tidak, bukan supaya terlihat romantis atau ditemukan orang lain. Sejujurnya aku tak peduli surat ini akan ditemukan oleh siapa. Sejujurnya aku memang tak ingin memberikannya padamu. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku. Tak masalah kau menemukannya atau tidak. Kalaupun kau menemukannya, itu jelas-jelas rencana Tuhan yang tidak ada dalam rencanaku.

Salam hangat,
Me

Sejujurnya aku tak punya clue sama sekali siapa ‘me’ dan ‘you’ yang ada di dalam surat itu. Hanya syukurlah kalau si pembuat surat tak marah karena aku sudah lancang membaca isinya.

Bergegas kumasukkan kembali surat dan kukembalikan ke tempat asalnya. Seolah-olah tak ada yang terjadi aku berpikir, sudah berapa orang yang membaca surat ini? Yang sepertiku, penasaran lalu dengan lancang membacanya? Yang sepertiku, kemudian bertanya-tanya sendiri.

Siapapun ‘me’ sebenarnya aku cukup tersentuh dan tak habis pikir saja. Untuk apa ini dilakukannya? Kalau tidak untuk ‘you’ lalu untuk apa? Inikah sisa-sisa keikhlasannya?

Daebak, aku merasa sedang menjadi salah satu karakter di novel-novel metropop kesukaanku. How romantic and so sad. Siapa sangka ternyata ini beneran terjadi di dunia nyata? Benar-benar membuatku terinspirasi.

Kuputuskan untuk berhenti memikirkannya, dan berdoa saja agar mereka dapat hidup dengan baik. Seperti cita-cita si penulis surat.

Ah, temanku sudah tiba. Sudah saatnya aku mendiskusikan apapun yang penting itu.

Medan, Hari Ketiga Ramadhan

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s