The Host: Perjalanan Mencari Jati Diri

image

Judul               : The Host: Sang Pengelana

Pengarang       : Stephenie Meyer

Terbit               : Juli 2009

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman          : 776 halaman

 

Melanie Stryder menolak dilenyapkan.

Kalau kamu sama seperti saya, yang mengira bahwasannya Melanie Stryder akan menjadi tokoh utama dan mendominasi penceritaan buku ini  hanya dikarenakan sepotong kalimat tersebut ada di halaman belakang buku, maka marilah kita sama-sama mengakui bahwa kita salah.

Yah, sejak awal sekali saat saya pertama kali bertemu buku ini—kalau tak salah, 2012 silam—saya meyakini bahwa buku ini ‘tentang Melanie’. Namun, setelah menyelesaikan halaman ke-776 saya menyadari bahwa buku ini bukan ‘tentang Melanie’. Buku ini secara keseluruhan bercerita mengenai Wanderer a.k.a Wanda a.k.a Sang Pengelana.

Wanderer bersama jutaan kaumnya, disebut ‘jiwa’, menginvasi Bumi. Menjadikan manusia inang untuk ditumpangi karena pada dasarnya para jiwa tidak memiliki inang sendiri. Otak manusia diambil alih sementara tubuh mereka meneruskan kehidupan yang lama. Saat itu, manusia ‘diburu’ untuk dijadikan inang. Keberadaannya sangat sedikit dan selalu berpindah-pindah, karena apabila jiwa menemukan mereka, kehidupan mereka akan tamat seketika.

Lalu dimana Melanie? Melanie—Mel—mengira bahwa ia bersama Jamie dan Jared adalah manusia terakhir yang ada di Bumi saat akhirnya dia menemukan fakta bahwa Sharon, sepupunya, masih hidup dan ‘nyaru’ menjadi jiwa. Di perjalanan menemui Sharon untuk hidup bersama, Mel tertangkap dan diserahkan pada Wanderer.

Namun, Mel menolak dilenyapkan. Mel menolak menyerahkan benaknya sepenuhnya.

Wanderer menjelajahi pikiran Mel dan mendapati dirinya sudah jatuh cinta pada Jamie dan Jared, sesuai keinginan Mel. Berdua mereka mencari keberadaan Jamie dan Jared karena percaya mereka berdua masih hidup.

Setelah menemukan keduanya, Wanderer dan Mel tidak lantas hidup bahagia. Wanderer menghadapi kenyataan bahwa kaumnya, para jiwa menyebabkan kekacauan yang tak pernah dibayangkannya. Hadir di lingkungan para manusia menjadikan Wanderer semakin manusiawi.

Di sini Wanderer mengalami banyak hal. Betapa dirinya ternyata diterima di sana, bahwa dirinya jatuh cinta pada manusia, bahwa dirinya dihadapkan kenyataan keinginan untuk menyelamatkan manusia dengan pilihan melenyapkan bangsanya, bahwa dirinya ingin menjadi manusia.

Sama seperti rangkaian Twilight Series, Stephenie menawarkan cerita fantasi yang tak kalah menegangkan. Untuk pecinta dunia fiksi fantasi, The Host layak untuk diapresiasi. Khas Stephenie; alurnya runut, tokohnya banyak, deskripsinya detil dan mudah dipahami.

Hanya memang rasanya buku ini terlalu ‘panjang’. Stephenie pasti memiliki alasan mengapa buku ini dijadikan satu sekaligus, tidak dijadikan serial seperti buku sebelumnya. Saya pribadi lebih suka seperti ini, satu buku saja. Karena memang ceritanya tidak cocok dijadikan series. Nanti malah semakin tidak jelas.

Terlepas rasa bosan yang sempat menyergap di tengah-tengah pembacaan buku ini, secara keseluruhan saya menikmatinya. Dan saya yakin, pecinta fiksi fantasi lainnya akan menikmatinya juga.

Buat kamu yang belum baca, sampai bertemu dengan para jiwa, hei pengelana!

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s