Timang-timang Anakku Sayang

Sumber: Istimewa
Sumber: Istimewa

Oleh: Sri Wahyuni Fatmawati P

Nina bobo oh nina bobo,

Kalau tidak bobo digigit nyamuk.

Nina bobo oh nina bobo,

Kalau tidak bobo digigit nyamuk.

Aku masih terus bernyanyi. Berkali-kali melantunkan bait lagu yang sama. Berharap bayi kecil itu terlelap semakin lama. Sesekali kugoyang ayunan tempatnya tidur. Ah, bayi kecilku. Cepatlah tidur, Nak. Cepatlah lelap, ada Ibu. Jangan khawatir, Nak. Takkan Ibu tinggalkan dirimu tidur sendirian di sini. Ibu di sini, Nak. Bersama malam.

Nina bobo oh nina bobo,

Kalau tidak bobo digigit nyamuk.

Nina bobo oh nina bobo,

Kalau tidak bobo digigit nyamuk.

***

Aku sedih, malam ini tak bisa bersama bayi kecilku. Suamiku yang jahat itu tak mengizinkanku menemuinya. Suamiku yang jahat itu lebih memilih bayi kecilku disusui oleh perempuan itu. Perempuan yang menggantikan posisiku segera setelah dia meninggalkanku. Sialan, dasar jahat! Bagaimana mungkin perempuan itu menyusui bayiku? Aku ibunya, aku yang seharusnya menyusuinya. Aku yang seharusnya di samping bayi kecilku untuk menemaninya tidur dan menyenandungkan lagu. Bukan perempuan itu, perempuan belasan tahun yang dijadikan istri keduanya.

Malam-malam panjang saat suamiku berlayar perempuan itu tak menjaga anakku dengan baik. Kerap dia pergi meninggalkan bayiku sendirian di rumah kontrakan mereka dan pergi melacur. Oh oh, maksudku melacur dia tidak pergi bersama perempuan-perempuan penjaja lainnya di ujung jalan kota kami yang memang terkenal akan hal seperti itu. Tapi dia pergi ke rumah Pak Ahmad. Tetangga ujung jalan gang rumah kontrakan mereka. Pergi melacur bersama laki-laki itu. Dan bayiku ditinggalkannya sendirian di dalam ayunan.

Kurang ajar. Bagaimana kalau bayiku diculik wewe gombel? Sekarang di kampung sedang ramai-ramainya membicarakan hantu itu. Katanya setan perempuan itu mencari mangsa bayi yang kemudian isi otaknya akan dihisap. Lalu ditinggalkan di pohon atas Beringin. Dasar perempuan laknat, tak dijaganya bayiku dengan baik.

Saat itulah aku menyelinap masuk. Bertemu dengan anakku, menggendongnya, menemaninya hingga tidur, menjaganya dan menyenandungkannya lagu. Saat tangisnya terdengar akan kususui dia.

Malam-malam seperti itulah nikmat bagiku. Saat suamiku pergi berlayar, dan si istri kedua pergi melacur. Aku bebas memandang rindu pada bayiku. Sebelum Subuh-si istri kedua pulang menjelang Subuh-aku akan pergi. Begitu terus menerus.

Hingga malam itu. Malam dimana aku akhirnya memberanikan diri menemui mereka, suamiku dan istri keduanya secara langsung. Aku perlu bertemu anakku. Aku tak bisa terus menerus seperti ini. Bertemu sembunyi-sembunyi dengan anakku sendiri. Aku harus memintanya.

Tapi sungguh malangnya aku. Bahkan sebelum aku mengetuk pintu rumah mereka, mereka hempaskan pintu rumah dengan kencang. Dia kunci semua pintu dan jendela. Dia suruh istri keduanya menggendong bayiku, dan dia berteriak lantang.

“Pergi! Pergi! Dasar iblis! Perempuan setan! Tinggalkan kami, tinggalkan anak ini! Jauh! Jauh!”

 

Astaga, apa susahnya dia berbicara baik-baik padaku? Tak perlu berkata-kata kasar dan meneriakiku seperti itu. Memangnya dia kira aku tak bisa mendengar? Apa katanya tadi? Iblis? Perempuan setan?

Kurang ajar! Dialah yang iblis. Istri keduanyalah yang perempuan setan. Bagaimana mungkin aku, seorang ibu, yang sangat menyayangi bayiku disebut perempuan setan? Aku tak terima.

Yah, biarlah kalau aku tak bisa membawa bayi kecilku tidur bersamaku malam ini. Aku punya rencana sendiri. Akan aku buat perhitungan pada mereka. Akan kudapatkan bayiku, anakku.

***

Malam ini purnama. Bulan sedang membulat dengan genap-genapnya. Tak ada awan gelap. Sempurna sudah. Bahkan alam tak berupaya sedikitpun menghalangi rencanaku.

Aku mendatangi rumah suamiku. Aku tahu hari ini adalah waktu yang tepat. Suamiku berlayar, dan istri keduanya melacur. Aku bisa bebas menemui bayiku kapan saja. Aku bisa menggendongnya sepanjang malam. Bernyanyi untuknya hingga tertidur, dan menemaninya hingga Subuh.

Tapi aku tak akan sekadar menemaninya terlelap. Aku akan membawa bayiku pergi. Akan kubawa bayiku bersamaku, agar tak perlu sembunyi-sembunyi menemuinya.

Perlahan kugendong bayiku. Tidurnya terganggu, matanya bergerak-gerak, namun masih terpejam. Sesekali menggeliat, selebihnya diam. “Sshh, tenanglah, Nak. Ini Ibu, akan Ibu bawa dirimu bersama Ibu. Kita akan bahagia, Nak,” ucapku sambil melangkah pergi.

Sesampainya di rumah aku gendong-gendong anakku. Aku belai-belai kepala mungilnya. Aku tak ingin kehilangan anakku, bayiku. Nak, bagaimana kalau ikut Ibu saja? Tak akan sakit, Nak. Hanya seperti digigit semut. Hanya sebentar. Tak akan menyisakan rasa apapun.

Perlahan tanganku memegang kepalanya. Kepalanya kecil sekali, hanya sebesar telapak tanganku. Kutekankan kelima jari-jariku ke ubun-ubunnya. Ahh, ubun-ubun bayiku masih lunak sekali. Perlahan tapi pasti kulit kepalanya terkelupas dan darah mulai berceceran. Lihatlah, tubuh bayiku seketika bergetar. Hanya sebentar, sisanya diam.

Nah, Nak. Kini kita sama. Kau bisa bersama Ibu selamanya.

***

Bunyi kentongan terdengar bertalu-talu. Semakin lama semakin kencang. Seluruh penduduk kampung berkumpul dan tergopoh-gopoh. Ada apa, pagi-pagi sekali sudah membunyikan kentongan. Apa ada maling? Atau pembunuhan? Atau ada yang ketahuan berzina?

Kampung heboh pagi itu. Katanya, bayi Sadikin hilang diculik wewe gombel. Sadikin yang pulang lebih cepat dari berlayar tadi malam tak menemukan anak dan istri keduanya di rumah. Ia menemukan istri keduanya di rumah Pak Ahmad, melacur. Tapi belum menemukan bayinya. Seketika dia gelap mata. Diambilnya hiasan samurai di dinding rumah Pak Ahmad. Tak sampai sepuluh menit, si istri kedua dan Pak Ahmad sudah mengelepar di depannya. Anak Pak Ahmad yang berkunjung pagi itu menemukannya, segera berteriak mencari pertolongan.

Penduduk kampung masih ribut-ribut. Bayi Sadikin yang hilang belum ditemukan. Hingga Maghrib menjelang dan bayi itu baru saja ditemukan.  Tergeletak di atas dahan pohon Beringin, menjadi mayat. Lengkap dengan kulit kepala robek dan darah berceceran di mana-mana.

 

Medan, 31 Oktober 2015

Sebelumnya diterbitkan di Harian Medan Bisnis Minggu

Advertisements

5 thoughts on “Timang-timang Anakku Sayang

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s