Anak-anak Desa Perbaji

image

“Kak! Kak! Ini apa? Yang ini apa? Ini kenapa beda? Ini kak, ini?” Riuh rendah suara mereka terdengar silih berganti. Tangan-tangan mungil mereka bergantian sembari berebutan menunjuk gambar apapun yang muncul. Bertanya macam-macam. Hewan ini apa namanya? Hewan ini kenapa bisa berenang? Tanaman yang ini dimana ditanamnya? Tanaman ini berbunga atau tidak? Ikan ini kenapa beda sama ikan yang ini? Tidak hanya sekali, juga tidak hanya seorang, namun berkali-kali dan mereka semua.

Kedatangan orang luar ke desa kecil mereka selalu menjadi hiburan yang menarik. Bagaimana tidak, setelah berbulan-bulan hidup berteman lahar dingin dan semburan abu vulkanik di kaki Gunung Sinabung, tentu saja mereka butuh pengalih perhatian. Gembiralah hati alang kepalang saat taman bacaan kecil didirikan di sudut desa. Tak luas sekali dalamnya, tak banyak sekali koleksinya. Tak setiap hari juga dibuka karena tak setiap hari kakak relawan datang.

Tapi itu cukup untuk mereka. Cukup untuk membuat mereka melihat dunia lewat buku-buku. Cukup untuk mereka memiliki tempat bermain sehabis sekolah, meski lebih sering main di hutan sambil bermandikan abu vulkanik. Cukup untuk mereka bertemu orang-orang baru. Cukup juga untuk tetap menghidupkan harap dan mimpi di relung asa kalau mereka bisa pergi ke belahan dunia mana saja.

Tangan-tangan mungil itu masih tak berhenti bergerak. Membongkar satu-satu buku yang ditumpuk sembarang di sudut taman belajar. Berebut menunjukkan pada siapa saja yang datang. Tak semua memang memilih membaca. Ada yang lebih memilih bermain di sudut lainnya. Bermain congklak beramai-ramai. Sedikit sikut saat kawan lainnya tak dianggap cukup jujur saat bermain. Lalu sama-sama tertawa sambil melanjutkan bermain. Yang berumur lebih kecil memilih ngelendot dengan orang yang datang. Bertanya ini itu, bergaya bermacam-macam pose saat melihat kamera siap beraksi. Dan menyanyikan lagu yang sama berulang-ulang lalu tertawa terbahak-bahak saat melihat hasil rekamannya.

Tak hanya senang main di taman baca, mereka juga senang menemani setiap tamu berkeliling desa kecil mereka. Menunjukkan setiap bekas lahar dingin yang hampir meluluhlantakkan lahan pertanian milik orangtua. Menunjukkan kolam-kolam ikan yang kini sudah berubah rata dengan tanah. Menunjukkan tumpukan abu vulkanik yang siang itu sempat datang walau hanya sebentar.

Di ujung kunjungan, tak lupa mereka selipkan senyum lebar diselingi harap dan doa. “Besok-besok ke sini lagi ya, Kak!”

Hei anak-anak Desa Perbaji. Aku doakan kalian agar dalat pergi mengenal dunia, seperti kalian mengenal baik desa kecil di kaki gunung itu. Ah ya, jangan lupa bahagia!

Ps: Tulisan ini awalnya dibuat untuk melengkapi keikutsertaan writing challenge di Instagram.

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s