Praktik Bersyukur

il_340x270.385875034_tfrw
Sumber: Istimewa

Oleh: Sri Wahyuni Fatmawati P

“Kamu kenapa enggak shalat?”

Pertanyaan Gadis meluncur begitu tiba-tiba. Aku yang sedang berusaha mengunyah bakso jadi berhenti mengunyah. Sendok berisi potongan kecil bakso yang akan kusuapkan ke dalam mulut berhenti di udara. Ada sekitar dua detik aku diam. Bengong lebih tepatnya.

Perlahan aku menarik napas. Melanjutkan mengunyah bakso. Sembari menghabiskan isi mulutku aku berpikir. Jawaban apa yang akan kuberi pada Gadis? Aku saja bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu.

“Hah?” aku memutuskan untuk pura-pura bodoh saja. Tidak mengerti maksud pertanyaan Gadis.

“Iya, kamu kenapa enggak shalat?” Gadis mengulang kembali pertanyaannya. Kali ini dengan sorot mata menatap lurus padaku dan diiringi senyum kecil.

Aku masih diam. Kumasukkan kembali potongan lain bakso ke dalam mulutku. Perlahan kuteliti wajah Gadis dengan saksama. Kenapa ia tiba-tiba bertanya hal ini?

Soalan ini lebih sulit dibandingkan daftar pertanyaan mata kuliah Terjemahan II tadi pagi. Lagian ada apa dengan gadis satu ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan, kenapa dia tiba-tiba bertanya hal seperti ini? Membuatku berpikir saja.

Perlahan kusedot Es Teh di dalam gelasku. Tujuannya selain untuk mendorong masuk bakso yang masih nyangkut di tenggorokan juga untuk mendinginkan hatiku. Ingin rasanya kusiramkan isi gelasku ke atas kepala, biar turut dingin kepalaku. Sial si Gadis, aku bingung sekali.

Perlahan kutelisik wajahnya dengan saksama. Aku berharap akan menemukan senyum jahil di sana. Senyum yang biasa ditunjukkannya kalau ia sedang menggodaku. Aku berharap matanya berbinar nakal, seakan berharap juga kalau aku akan masuk jebakannya. Aku berharap dia akan segera menyemburkan tawa sembari menutup mulut dengan telapak tangan kirinya. Sambil berkata, “Ya ampun, Dewa! Kamu serius sekali. Aku bercanda saja tahu. Sudah, abaikan pertanyaanku. Cepat habiskan bakso ini.”

Dua detik. Tiga detik. Hingga lima detik aku menunggu. Tak ada semua tanda-tanda yang kuharapkan tadi. Yang kutemukan malah sorot mata lembutnya yang masih terus menatap mataku. Senyum kecilnya yang masih bertahan.

Selama waktu yang kubutuhkan untuk bergulat dengan diriku sendiri, selama itu juga Gadis tak berkutik. Dia masih sabar menunggu aku menjawab. Hingga kuputuskan untuk menjawabnya saja. Dengan jawaban ala kadarnya. Kuharap—kali ini aku benar-benar berharap—dia akan puas dengan jawabanku dan tidak bertanya lebih lanjut.

“Aku malas,” jawabku.

Dia diam. Aku menghembuskan napas lega. Harapanku benar-benar terkabul. Dia tak bertanya-tanya lagi.

“Malas. . . ,” Gadis menghela napas “. . . atau tidak mau?” tanyanya.

Kini aku yang terdiam. Senyum kecil yang tadi sempat singgah di ujung bibirku menghilang sama-sekali.

“Malas,” sahutku sekali lagi. “Yahh . . . mungkin juga aku tak mau,” aku menambahkan.

“Mengapa?” tanyanya lagi.

“Kenapa harus?”

Gadis terdiam. Aku tahu sekali kalau Gadis tahu sekali tentangku. Aku tahu sekali kalau sekarang Gadis sedang berpikir keras menemukan padanan kata yang cocok untuk disampaikan kepadaku. Aku juga tahu sekali Gadis apa yang sedang kupikirkan.

Bagaimanapun ini masalah keyakinan. Aku tak suka membahas keyakinanku dengan orang lain. Aku selalu percaya masing-masing orang memiliki cara sendiri-sendiri untuk melakukan keyakinannya. Memiliki cara sendiri-sendiri untuk berkomunikasi dengan Tuhannya—yang percaya akan Tuhan.

Aku tak pernah mau repot-repot memikirkan bagaimana seseorang melaksanakan keyakinan mereka. Aku tak pernah mau repot-repot mencari tahu apakah seseorang memiliki keyakinan atau tidak. Sekali lagi, aku tak peduli bagaimana seseorang menjalankan keyakinannya. Atau bahkan memilih untuk tak berkeyakinan sekalipun. Ah, memilih untuk tak berkeyakinan pun sebuah keyakinan.

Aku bukan orang yang akan dengan sibuknya mempermasalahkan keyakinan seseorang yang berbeda, atau menjadikannya sama denganku, atau apalah yang lainnya. Kupikir tak ada yang salah dengan keyakinan macam apapun yang diyakininya. Selama seorang pemeluk keyakinan tidak mengganggu pemilik keyakinan lain, baik-baik saja.

Sejujurnya aku tak suka pembicaraan ini. Tolong, jangan ikut campur urusanku dengan Tuhanku.

Tapi semua yang kudumelkan dari tadi tak kusampaikan pada Gadis. Untuk apa? Toh dia sudah tahu aku luar dalam. Termasuk yang kukicaukan dari tadi.

“Lalu bagaimana caramu bersyukur?” tanya Gadis tiba-tiba.

Aku mengernyitkan dahi. “Apa yang harus kusyukuri?”

Seketika kudengar tawa renyah dari bibir mungilnya.

“Kau tak tahu apa yang bisa kau syukuri?” kali ini dia bertanya sambil tertawa. Meski wajahnya menunjukkan sedikit raut heran.

Aku menggeleng. “Oh, kau tahu dengan pasti apa yang sudah kulalui 21 tahun ini. Tuhan benar-benar tak adil,” sahutku.

Gadis masih tersenyum meski tawanya sudah hilang dari tadi.

“Aku tahu kamu cerdas, Dewa. Karenanya aku tak akan bicara panjang lebar padamu. Kamu tak berpikir darimana kita bisa makan bakso sore ini?” tanya Gadis.

Aku terdiam. Lalu Gadis terdiam. Harapanku kali ini benar-benar menjadi kenyataan. Gadis menutup mulutnya. Berhenti bertanya. Membiarkanku yang kini bergelut dengan pikiran-pikiranku. Sial, Gadis diam saja tak cukup mendinginkan kepalaku.

***

Sudah lewat dua minggu sejak perbincanganku bersama Gadis di warung bakso tempo hari. Hari ini aku janjian bertemu dengannya. Maklum saja, gadis satu ini sibuknya luar biasa, agak susah mencari waktu kosong bertemu dengannya. Sedangkan aku juga sedang disibukkan dengan kegiatan baruku. Mengejar-ngejar dosen pembimbing.

Sudah lima belas menit aku berdiri di depan gerbang kampus saat aku melihat Gadis berlari-lari kecil menuju arahku. Saat jarak kami hanya tinggak dua meter lagi aku segera memasang wajah kesal.

“Maaf . . . .” Gadis langsung mendahuluiku berbicara. “Aku ada sedikit urusan tadi,” sahutnya lagi sambil mencoba mengatur napasnya.

Aku hanya tersenyum kecil. “Aku maafkan karena hari ini aku mau traktir bakso,” ucapku.

“Benarkah? Ada perayaan apa?” tanyanya.

Aku tak langsung menjawab. Lama aku terdiam.

“Aku sudah memikirkan pertanyaanmu waktu itu. Bayangkan, aku membutuhkan waktu dua minggu untuk menemukan jawabannya.” Sahutku.

Gadis tak bersuara. Dia hanya melirikku sambil menaikkan alis kirinya.

“Aku sudah memutuskan bagaimana caraku bersyukur,” sahutku. “Aku memilih bersyukur dan berkomunikasi dengan Tuhanku melalui shalat. Kenapa shalat? Karena hanya itu yang ku tahu. Saat ini hanya itu yang terdekat dariku.”

Aku kembali melanjutkan sebelum Gadis menjawabku. “Tapi siapa tahu di masa mendatang saat aku mengenal lebih banyak keyakinan, aku memilih cara lain. Jadi bisa saja itu tidak selalu cara yang sama.”

Gadis menatapku. Lama. Kemudian tersenyum dan dilanjutkan dengan tertawa.

“Baiklah sobat. Aku paham, terserah kau saja. Kita tak permasalahkan keyakinan orang-orang kan? Aku hanya membantumu menemukan cara bersyukur. Aku tahu, kau memang cerdas. Sekarang, ayo kita makan bakso. Gila, aku lapar sekali. Dosenku membuatku harus mengerjakan banyak sekali tugas . . . .”

Aku tertawa. Sembari berjalan di samping Gadis yang tak henti-hentinya berceloteh tentang dosennya.

Advertisements

5 thoughts on “Praktik Bersyukur

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s