Kamuflase

image

Jangan tertipu, tawa ini hanya kamuflase. Sama seperti sehari-hari saat saya berlakon peran. Saya sedang pura-pura. Bagaimana tidak, saya tak bisa pasang wajah tak enak di depan mereka-mereka. Lebih mudah tertawa daripada harus menjelaskan kenapa berwajah tak enak. Tapi, terkadang saya juga ingin berwajah tak enak. Bahkan, menangis sesekali.

Sial, sial sekali. Sial, sial, sial, sial. Rasanya ingin memaki. Tapi, bahkan kosakata makian saya tak banyak. Sekalipun ada saya tak berani menggunakannya. Takut dimarah mamak karena mengumpat. Ya ini saja yang saya bisa. Mengumpat di sini. Di blog ini. Yang kalau orang-orang lagi sial, tak sengaja singgah di sini, dan menemukan tulisan sampah/menye-menye milih saya. Tak penting sebenarnya, tapi saya butuh ini. Saya butuh cerita. Butuh pendengar.

Saya tak tahu harus benci atau tidak pada Maret. Begitu banyak kekecewaan yang datang bertubi-tubi. Begitu banyak juga pengharapan yang disandingkan di bulan ketiga. Tapi saya malah jatuh jauh sebelum saya benar-benar sadar saya akan segera kecewa lagi. Saya bahkan sudah janji pada dua orang. Pada diri sendiri dan pada orang lain. Saya akan mencoba. Mencoba untuk berani kecewa.

Benar. Kecewa dan pengharapan layaknya dua sisi mata uang. Saling bersandingan. Seharusnya, takut kecewa tidak menjadikan seseorang menekan semua pengharapan. Tapi mana ada orang yang mau kecewa. Mana ada orang yang tak berharap. Semuanya seperti tak ada akhirnya.

Setelah sesi panjang malam itu saya berpikir banyak. Mungkin dia benar. Beberapa keputusan sudah saya buat sambil membulatkan tekad. Salah satunya saya akan kembali mencoba. Tak boleh takut kecewa. Saya mengakhiri bulan ketiga dengan banyak sekali kekecewaan dan bangun di bulan keempat dengan pengharapan yang lain. Namun, lagi-lagi saya harus menghadapi kekecewaan. Apalagi menghadapinya sendirian.

Tapi sekali lagi jangan tertipu. Saya masih punya banyak amunisi. Saya masih punya pengharapan kalau saya tak akan kecewa lagi. Dan tolong jangan serius kali membaca tulisan ini. Belum tentu juga tulisan ini benar. Bisa saja saya juga sedang berlakon. Menjadi nona muda yang sedang kecewa.

Adios

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s