Hari Kesekian di Bulan Entah Keberapa di Duaribuenambelas

Screenshot_2016-02-15-18-17-28_com.instagram.android_1455535177266

Ini sudah entah hari keberapa aku seperti ini. Mencari-cari kesibukan, mencari-cari apa saja yang bisa kulakukan. Agar aku tak hanya diam saja di kosan tak melakukan apa-apa. Mulai dari mengerjakan tugas kuliah, mengerjakan skripsi, pergi les, menata kembali isi lemari pakaian, isi lemari buku, menata ulang perabotan di kamar, mencuci pakaian-pakaian yang sebenarnya masih bersih, menonton ulang koleksi film di laptop, membaca ulang koleksi buku, mendengarkan koleksi lagu-lagu, main games di hape hingga bermain aplikasi pencari jodoh sialan yang baru kukenal belakangan ini. Untuk yang terakhir, aku melakukannya murni karena tak ada lagi yang bisa kukerjakan.

Hei, jangan tertawa dulu. Untuk yang terakhir tadi aku hanya sekadar ingin main-main. Senang-senang. Menyibukkan diri. Jangan sampai aku tak punya kesibukan. Itu artinya aku memiliki banyak waktu untuk meratap. Menghabiskan banyak hari untukku agar sampai di posisi ini. Aman dan nyaman berbicara tentang semua ini. Tak ada gelisah, kesal, marah apalagi tangis. Aku baik-baik saja.

Benar kata seorang teman. Aku hanya perlu ikhlas. Aku hanya perlu berdiam diri untuk sejenak. Kata seorang teman, aku tak perlu habiskan banyak air mata. Aku terlalu berharga. Thanks to orang-orang yang ada di sampingku beberapa hari ini. Mulai dari yang menemani via chat, via telpon atau bahkan memberikan telinganya sambil menemaniku makan siang. Atau teman-teman yang sebenarnya tak tahu apa-apa, namun entah kenapa aku justru sangat terhibur karena mereka bersikap biasa saja. No more tears, no more dramas.

Entah kenapa Maret selalu memang menyebalkan. Teman lain mengalami banyak kegagalan dan hal menyedihkan di Maret ini. Sejak kemarin-kemarin Maret memang selalu jadi salah satu part dalam setahun yang ingin dilewati sesegera mungkin. Selain kerjaan yang sangat menumpuk di Maret, entah kenapa segala hal buruk terjadi di sini. Eh, no hard feeling. Ini hanya argumen subjetif semata.

Akhir kata, seperti yang kukatakan kepada mereka semua yang menyayangiku, aku akan baik-baik saja. Mungkin tidak dalam waktu dekat ini, mungkin akan memakan waktu yang sangat lama, tapi aku akan baik-baik saja. Juga tidak mungkin tidak suatu hari aku akan kembali menyesal, akan kembali mengumpat dan merutuk, akan kembali menangis, tapi tetap saja aku akan baik-baik saja. Karena itu sembari menunggu masa itu, aku akan tetap hidup. Menyelesaikan skripsi sesegera mungkin, mencari pekerjaan sekeren mungkin dan tetap bahagia. Karena itu kalau Semesta punya skenario apapun aku sudah siap. Menjadi pribadi yang lebih baik.

Kali ini aku (ingin) percaya ini merupakan bagian dari rencana Semesta. Semesta tak penah berbohong. Semesta tak pernah salah perhitungan. Dan tugasku, sama seperti pemain lain, mengikuti skenario Semesta. Dia benar, tak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Baik aku dalam rencana Semesta.

 

Gadis

Di Entah Bagian Sebelah Mana Gedung Kampus Entah Milik Siapa

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s