#happynewyear

image

Tulisan ini kutulis di pagi pertamaku di tahun baru. Pagi pertamaku dimana aku bangun setelah malamnya tidak mengindahkan keramaian yang ada. Lebih memilih berada di kamar, mendengarkan dengan saksama suara berdentum-dentum di atas kepala sembari berselimut. Ternyata, kantuk mengalahkan semuanya.

Memang sengaja tulisan ini kubuat di tahun baru. Tidak ada alasan khusus, ingin saja, hahaha. Tulisan ini tak akan membahas macam resolusi yang mau kulakukan di tahun depan. Ini hanya semacam refleksi. Tak ada niatan apa-apa, hanya membongkar ingatan apa saja yang sudah kulalui setahun ini.

Tadi malam, saat terbangun tepat di pukul 00.00 (aku keren, bangunnya tepat pergantian tahun), dilatarbelakangi suara kembang api dan pekik girang orang-orang selama kurang lebih sejam, aku berpikir. Alhamdulillah, tahun ini terlewati. Entah dengan baik atau dengan buruk, alhamdulillah tahun ini sudah terlewati.

Tahun ini kulalui dengan menjadi banyak hal. Hal terbesar yang mungkin berhasil kuselesaikan adalah masa baktiku. Kali ini aku benar-benar percaya, tiga tahun setengah jelas-jelas bukan waktu yang terlalu lama meski tak bisa juga dibilang singkat. Dipercaya menjadi ‘seseorang’ oleh seorang teman membuatku belajar banyak hal tahun ini. Kalau mau dikatakan pencapaian, aku rasa tahun ini memang pencapaian terjauhku. Aku berusaha keluar dari zona nyaman yang selama ini kubuat berdinding tebal. Aku berusaha mendekat meski jatuh tersungkur berkali-kali. Hingga di tengah perjalanan sempat ingin berhenti. Hanya rasa bangga dan sayanglah yang membuatku tak ingin mengecewakan mereka lebih lanjut. Yah, tiga setengah tahun memang waktu yang singkat.

Di tahun ini juga aku kehilangan teman, atau yang dulu kuanggap teman, tapi ternyata tak menggapku teman. Macam kejadian dan peristiwa membuatku akhirnya sadar, siapa yang benar-benar teman. Sulit bagiku untuk dikecewakan, buktinya hingga sekarang, aku tak berniat kembali berteman. Biarlah, suatu saat.

Hubungan dengan seorang teman juga ternyata tak membaik sejak akhir tahun lalu, bahkan memburuk di akhir tahun ini. Maaf untuk seorang abang yang tak bisa kupenuhi harapnya. Tak bisa menjadi ‘temannya’ setahun kemarin. Tak mau berusaha lebih untuknya kemarin. Tapi sudah kulakukan apa katamu. Berdiri di sampingnya hingga akhir. Pernah kukatakan, aku akan berteman dengannya setelah ini semua selesai. Yay, sekarang rasanya.

Telah kukecewakan beberapa orang adik kecil. Maaf. Aku sudah berusaha semampuku. Selebihnya, aku tak bisa. Maaf.

Tahun ini juga berhasil kulewati karena campur tangan seorang teman. Teman yang jaraknya lebih dari 1000km. Haha, mau bagaimanapun, kau tetap jadi teman paling baik. Teman paling pendengar, teman paling penyabar. Selalu ada tiap aku mengeluh, sesibuk apapun kau. Menggantikan sosok abang dan teman lain yang tahun ini memang tak bisa kugapai dengan baik. Aku selalu berdoa, agar kau selalu bahagia. Beberapa minggu terakhir ini kau agak ‘sibuk’ ya, hehe. Semoga tahun depan kau tetap tak berubah. Tetap seperti ini.

Untuk seorang kakak. Peluk hangat dari kamarku untukmu di sana. Ucapan terima kasih terbesar tentu saja kulayangkan untukmu. Genggaman terkuat tentu saja berasal darimu. Aku tahu kau bijaksana. Terima kasih. Untuk tiap malammu yang terganggu karena chat-chat tidak penting dariku. Untuk waktumu yang tersita saat dengarkan keluh kesahku. Untuk sabarmu menghapus air mataku. Aku bahkan gak tahu bagaimana melewati tahun ini kalau enggak ada nasihat-nasihat darimu. Haha, alay memang. Tapi sangat berjasa.

Tahun ini mungkin aku juga mengecewakan seorang abang. Tak mendengar kata-katanya. Mengacuhkan nasihatnya. Menghindar darinya. Maaf. Ada sebuah surat yang pernah kutulis dulu sekali. Niatnya ingin kubiarkan kau baca, agar kau tahu alasanku. Tapi aku berubah pikiran. Biarlah begini.

Tahun ini juga aku mengecewakan diri sendiri. Semangat menyelesaikan proposal sebelum tahun ini berakhir tak berhasil kulalui dengan baik. Sepanjang sisa tahun aku membaik-baikkan perasaan. Tahun depan, tak boleh kecewa lagi.

Menjelang penghujung tahun, satu resolusiku tercapai. Bertemu si dia. Keputusan menjalin hubungan jarak jauh jelas bukan keputusan mudah. Tapi tak apa, toh jadi lebih mudah saat dilakukan berdua.

Niatan untuk ingin lebih produktif rasanya cukup tercapai tahun ini. Laman wordpress menghasilkan lebih dari 40 postingan. Dan satu cerpenku menembus media. Bukan media nasional, hanya media lokal. Tapi cukup mendongkrak semangat untuk menembus yang lebih lagi.

Cuma mau bilang, Desember tak mengecewakanku tahun ini. Dia membalas ingatan jelek di Desember tahun lalu. Sejauh apapun langkahku tahun ini, aku bersyukur akhir tahun kututup dengan baik.

Tahun depan apa yang mau kulakukan? Ada banyak. Memperbaiki kualitas diri sendiri.

Happy new year. Hope you have a great next year! Muah!

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s