Si Gadis

image

Ini cerita tentang seorang gadis. Gadis ini maksudnya dia benar-benar seorang gadis. Berumur seperti gadis, menjelang dewasa tapi belum terlalu matang. Gadis ini bercerita padaku di suatu masa.

“Aku sedang berbunga-bunga,” ucapnya.
“Berbunga-bunga seperti apa? Banyak bungakah?” aku gagal paham
“Oh paok, bukan arti harafiah seperti itu. Aku sedang berbunga-bunga. Sedang senang, bahagia,” gadis ini coba jelaskan padaku
“Ya?” Aku coba tanya dirinya lagi.
Aku berkata ‘ya?’ seperti itu bukan karena aku masih gagal paham, tapi karena aku mencoba membuatnya untuk terus berbicara.

“Aku rasa aku sedang menyukai seseorang,” lanjutnya.
Aku diam.
“Aku baru mengenalnya. Oke, sebenarnya tidak benar-benar baru mengenalnya. Hanya dalam artian ‘mengenal’ aku memang baru saja mengenalnya.”
Aku masih tenang mendengarkan.

“Sebenarnya dia sama seperti laki-laki lain yang sedang mendekatiku. Baik, perhatian, lucu, cerdas dan ada selalu. Hanya yang membuatnya beda adalah aku bisa hanya mengingatnya. Oh kau pasti paham maksudku. Kau tahu jelas pemikiran dan pemahamanku kalau kita harus menemukan pasangan yang bisa membuat kita hanya fokus padanya seorang. Tidak masih memikirkan orang lain. Tidak mantan atau laki-laki lain yang berpotensi menjadi pasanganmu juga.”

“Lalu kau tunggu apa?” Tanyaku.

“Bagaimana kalau ini hanya salah satu misinya? Oh ya ampun. Aku takut aku sudah geer setinggi langit, berdebar-debar setiap kali dia menelponku, merona malu setiap kali dia menggodaku dan tertawa senang untuk semua lelucon yang dilontarkannya, ternyata ini hanya bagian dari misinya. Tak usahlah kujelaskan misi apa yang kumaksud, selain tak penting terlalu ribet menjelaskannya padamu.”

Aku masih diam mendengarkan.

“Dan kami masih baru saja mengenal. Baru saja mengenal. Bagaimana kalau ini hanya perasaanku saja? Bagaimana kalau ternyata dia memang baik sama semua orang? Cewek-cewek itu? Kan aku enggak mau kegeeran, salah tingkah sendiri, dan pada akhirnya ternyata aku salah duga ….”

“Apa menurutmu ada kemungkinan dia seperti itu?” Tanyaku.
“Ya mungkin saja, kenapa enggak?” Dia menjawab lesu.
“Lalu kau mau apa?” Tanyaku lagi.

“Enggak tahu, enggak berani berharap. Aku merasa tidak ada yang salah dengan perasaan ini. Aku merasa aku senang-senang saja dengan semua tingkahnya. Aku merasa aku nyaman-nyaman saja dengan semua joke dan ceritanya. Secara tak sadar, aku menyukainya. Hanya…. Ya yang kukatakan padamu tadi, aku takut ini tak seperti apa yang kupikirkan. ”

“Awalnya aku berpikir dia terlalu too much untukku. Dirinya cerdas, berwawasan baik, memiliki pekerjaan yang mapan, humble, lingkungan pertemanannya juga, dan lain-lain. Dibandingkan denganku yang punya mimpi tapi gak berusaha mewujudkannya itu terasa sangat jauh dengan dirinya. Makanya setiap kali aku menemukan kesalahan-kesalahan kecilnya aku merasa makin senang. Oh, ternyata dia sama sepertiku. Bisa salah dan bisa silap. Kau harusnya bisa membayangkan betapa dia sangat menggemaskan dan sangat menyenangkan saat bercerita tentang kesukaannya. Dia benar, andai kami bisa bertatap mata secara langsung. Pasti menyenangkan melihat ekspresi satu sama lainnya.”

“Sebenarnya aku juga khawatir. Khawatir terlalu berharap, khawatir kalau hal ini ternyata hanya perasaanku saja, dan akan memalukan bila orang-orang sudah terlanjur tahu. Makanya aku hanya cerita padamu. Begitulah.”

“Bagaimana kau melihatku sekarang?” Tiba-tiba dia memberikan pertanyaan yang tak kusangka-sangka.

“Biasa saja, hanya kau memang kelihatan berbeda. Mungkin karena berbunga-bunga yang kau sampaikan tadi. Menurutku sih baik saja, karena moodmu juga membaik beberapa hari terakhir. Karena dia kah?” Tanyaku.

“Hm, tidak juga. Beberapa hari terakhir ada banyak hal yang menyenangkanku. Tapi memang ada dirinya di sana. Aku malu.”
“Kenapa?”
“Tidak ada. Hanya malu.”
“Baiklah.”

“Kau harus tahu betapa aku menganggap diriku aneh sendiri. Nanti senyum-senyum sendiri mengingat perbincangan konyol sebelumnya, nanti tiba-tiba panik sendiri saat ada orang lain melihat percakapan kami. Aneh. Aku merasa seperti abege lagi. Aneh sekali.”

“Kau jatuh cinta.”
“Iyakah? Secepat ini?”
“…..”
“Tidak. Kupikir aku hanya nyaman, terpesona dan senang. Oh ya, aku berbunga-bunga.”

“Kau jatuh cinta,” sahutku lagi.
“……”
“Bisa saja sih.”

Medan, 2 November.

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s