Mengenal Pria-pria Itu

Sumber: Istimewa
Sumber: Istimewa

Aku punya kenalan baru.  Bagaimana kalau kusebut saja Si Kopi? Ehm, bukan karena dia suka kopi. Tapi karena dia tak suka kopi. (Aku jarang sekali bertemu orang yang tak suka kopi, kecuali diriku)

Pertemuanku dengannya tak lebih dari jumlah keseluruhan  jari kedua tanganku, atau mungkin hanya satu tangan. Tak banyak aku bertemu dengannya. Dan hampir keseluruhan adalah kebetulan, sebenarnya juga tak bisa dibilang seperti itu. Yang pasti, kami tak pernah berjanji bertemu secara sengaja.

Awal pertemuan sebenarnya biasa saja. Dia seorang tetangga saudaraku, dan teman bermain kakak sepupuku. Aku yang saat itu berkunjung ke sana, terlibat perbincangan dengannya. Sebenarnya ini cukup tidak biasa, mengingat aku biasanya lebih memilih melipir pergi.

Awalnya dia yang mengeluh pada kakak sepupuku, betapa susahnya dia menemukan pasangan akhir-akhir ini. Semua usaha sudah dilakukannya dan bla bla bla bla lainnya. Aku yang ada di sekitar mereka hanya diam sambil sesekali menyimak. Sampai akhirnya dia menanyakan pendapatku. Tentang pernikahan beda agama. Astaga, entah bagaimana perbincangan mereka bisa sampai ke topik itu.

Dengan semangat kakak sepupuku cerita, bahwa aku punya pacar beda agama. “Mantan,” koreksiku. Perbincangan kami dimulai. Dia kaget sekali waktu tahu aku berpacaran empat tahun dengan Si Mantan. Dan kemudian berpisah. “Karena beda agama?” tanyanya spontan. Aku geram mendengarnya. “Bukan. Kami pisah baik-baik, dan bukan karena agama.”

Yah, banyaklah yang kuperbincangkan dengannya. Sejak itu kami tak bertemu lagi, karena aku harus kembali ke kota provinsi untuk pendidikanku. Bebulan-bulan kemudian aku kembali. Dan pertemuan tak sengaja dengannya terjadi. Aku yang lupa (aku tak ingat hal-hal yang menurutku tak penting) diingatkannya perihal perbincangan pasangan beda agama waktu itu.

Ah ya, itu dia.

Siapa sangka ternyata dia tak melupakan perbincangan kami waktu itu. Dan dimulailah. Sepertinya dia sudah menemukan ‘calon pasangan’ yang dicarinya dan dibicarakannya dengan kakak sepupuku beberapa bulan silam.

Dia mengingatkanku pada suatu fakta. Betapa ternyata aku tak membiarkan diriku mencoba mengenal mereka-mereka yang datang untuk coba mengenalku. Padahal kupikir aku sudah cukup membiarkan diriku mengenal orang-orang baru. Nyatanya, saat aku dihadapkan pada dirinya, yang terang-terangan ada di depanku, aku tak seterbuka itu.

Kupikir ini tak ada hubungannya dengan Si Mantan. Hei hei, aku sudah move on. (Aku akan bicarakan ini di lain waktu) Toh aku juga mempersilakan diriku untuk mengenal orang-orang baru. Tapi kupikir mungkin memang tak sekuat itu keinginanku.Soalnya biasanya aku anteng-anteng saja saat si orang baru menghilang, lalu muncul kembali. Kupikir, berteman seperti itu wajar saja toh? Toh, ada teman yang lain. Sial, aku mulai kedengaran tak waras, hahaha.

Yah, kupikir juga tak ada salahnya buatku untuk benar-benar meniatkan diriku untuk mulai mengenal orang-orang baru. Bagaimana kalau dimulai dari yang dekat? Si Kopi. Rasanya dia penasaran padaku.

Atau dimulai dari dirimu. Yang sudah sangat mengenalku, tapi aku yang kurang mengenalmu, hei Biru.

Yah, siapa tahu kamu adalah orangnya. 🙂 *wink

Advertisements

One thought on “Mengenal Pria-pria Itu

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s