KARMA

karma_has_no_menu_you_get_served_2013-10-08_11-37-27

Ukh. Kepala Utomo tersentak ke depan dan ke belakang. Suara barusan benar-benar mengagetkannya. Utomo menarik napas perlahan sambil berusaha menenangkan detak jantungnya . . . . Sekilas Utomo melayangkan pandang keluar jendela Honda Jazz-nya. Gelap. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri. 22.30 WIB. Sial, rutuknya. Sudah semalam ini dan dia belum sampai ke rumah sakit. Dan sekarang dia memiliki masalah kecil.

Dibukanya perlahan pintu mobilnya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pelan dilangkahkan kaki ke arah depan mobil. Deg. Utomo terpaku melihat benda di hadapannya. Kecil. Hitam. Merah. Tak berbentuk.

Kucing hitam itu sudah terluka parah. Dilihatnya kedua kaki depan kucing tersebut sudah lepas dari badannya. Bau anyir darah juga tercium. Ukh, sialan, dia merutuk lagi. Masa bodoh lah, aku harus segera pergi dari sini. Utomo kembali masuk ke dalam mobilnya, menghidupkan mesin dan melaju kencang membelah malam. Melanjutkan perjalanannya yang tertunda.

Sembari menyetir pikirannya melayang ke kejadian di Bandung 2 jam lalu. Utomo sedang ada pertemuan dengan klien barunya dari Singapura saat sekertarisnya mengabari kalau Diana, isrtinya, baru saja dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadar. Sesudahnya Utomo tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja dia sudah di jalan dan menabrak kucing hitam tadi. Deg. Hati Utomo kembali tersentak mengingat kucing itu. Utomo menggelengkan kepalanya berulang kali, berharap bayangan kucing berdarah itu hilang dari pikirannya. Sedetik kemudian dia sudah kembali memfokuskan pikirannya pada perkataan sekertarisnya tadi. Sepertinya dia hanya mendengar sekilas. Jatuh. Kamar mandi. Pingsan. Rumah sakit. Bayi.

Tuhan, Utomo mengerang. Selamatkan anak dan istriku. Kandungan Diana baru saja berumur 7 bulan seminggu yang lalu. Kecelakaan kecil itu pasti akan sangat berdampak untuk keduanya. Utomo tidak mau kehilangan salah satunya, apalagi keduanya. Tak terasa Rumah Sakit Negeri Jakarta ada di hadapannya. Bergegas dia keluar dan menemui istrinya.

Ruang operasi. Ternyata istrinya sedang menjalani operasi. Keadaan Diana dan kandungannya yang sangat lemah membuat dokter harus segera mengeluarkan bayi mereka. Utomo hanya bisa terduduk lemas di bangku depan kamar operasi. Kedua orangtua dan mertuanya juga menunggu di situ. Sekilas Utomo melirik jam tangannya. 23.30 WIB. Hampir tengah malam, pikirnya.

Pikiran Utomo masih terbayang mengenai kucing yang ditabraknya tadi. Entah kenapa sangat melekat di pikirannya. Masih tergambar jelas di ingatannya bagaimana bentuk kucing mati itu. Kedua kaki depannya patah. Berpisah dari badannya. Tapi kepala dan kedua kaki belakang serta badannya masih utuh. Hanya berdarah-darah. Sehingga kucing itu tampak mengenaskan. Sangat mengenaskan malah. Utomo tak pernah menabrak kucing sebelumnya, tidak juga hewan. Ini yang pertama. Dan sepertinya sangat menyita pikirannya.

Tiba-tiba Utomo teringat Mbah Rin, neneknya. Mbah Rin tinggal di desa pinggiran Jawa Barat. Dulu sekali waktu Utomo masih kecil hampir setiap liburan sekolah dia ke rumah Mbah-nya itu. Dia sering sekali duduk santai sambil mendengarkan cerita-cerita Mbah-nya. Biasanya cerita wayang, atau cerita tantang kebudayaan Jawa. Dan biasanya juga dia mendengarkan cerita-cerita itu sambil menggelayut manja di pangkuan sang Mbah. Sampai dia tertidur tanpa di sadarinya. Kemudian dibopong Mbah-nya ke kamarnya, memindahkannya ke tempat tidur.

Dulu sekali Mbah-nya pernah bercerita, sesuatu tentang kucing hitam. Tapi apa ceritanya dia lupa. Utomo memelengkan kepalanya sedikit. Berusaha mengingat apa cerita yang pernah diutarakan Mbah-nya dulu. Tetap tak ingat. Utomo menghela napas sejenak. Rasanya dia sangat lelah. Perjalanan Bandung-Jakarta. Kucing hitam tadi. Dan sekarang keadaan Diana. Semuanya membuatnya sesak napas.

***

Deg. Utomo tersentak. Sepertinya tadi dia tertidur. Dan sesuatu yang merangsek ke dalam pikirannya membuatnya bangun seketika. Sesuatu tentang bayinya. Untuk kembali mengingatnya saja dia tak sanggup. Sekali lagi Utomo menghela napas. Sudah entah berapa kali dalam semalam ini dia menghela napas seperti itu.

Pintu ruang operasi terbuka. Dokter Gunawan keluar. Matanya kuyu. Juga lelah. Utomo melirik jam tangannya. Pukul 2 pagi. Berarti operasinya selama dua jam lebih. Dokter Gunawan menghampiri Utomo.

“Bagaimana istri saya Dok? Anak saya? Baik-baik saja kan?” Utomo memberondong dokter itu seketika.

“Iya, Diana baik-baik saja,” Dokter Gunawan menjawab. Utomo mengernyit, lalu bayi kami?

“Anak saya Dokter? Bagaimana dia?” Utomo kembali bertanya.

Dokter Gunawan menghela napas perlahan. “Ya, anak anda selamat,” ujarnya.

RefleksUtomo menghembuskan napas lega. “Syukurlah,” bisiknya.

“Saya bisa menemui mereka Dok?” Utomo bertanya lagi.

“Ya tentu saja, istri anda sudah bisa ditemui setelah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa tapi sebaiknya satu orang dulu. Dan anak anda sedang dibersihkan, setelah itu bisa anda lihat,” jelas Dokter Gunawan.

“Baiklah,” sahut Utomo

Utomo menemui Diana di ruang rawat wanita itu. Kondisinya masih lemah. Namun sepertinya kabar bayi mereka yang selamat cukup membuat wanita itu tersenyum. Diana menatap lembut ke arah Utomo. Tak banyak bicara. Karena sepertinya keduanya sama-sama lelah. Mengetahui keduanya baik-baik saja membuat keduanya saling bersyukur.

Tak lama kemudian perawat masuk ke ruangan. Dokter Gunawan mengikuti dari belakang. Perawat itu membawa bayi mereka. Utomo tersenyum. Dia sudah tidak sabar dari tadi. Ingin segera melihat anaknya. Perawat memberikan bayi itu kepada Utomo agar Utomo dapat menggendongnya. Utomo menyambutnya dengan antusias. Saat itu Utomo menyadari sesuatu. Dia mengerti wajah khawatir Dokter Gunawan tadi. Dengan gusar Utomo menyingkap kain yang menutupi tubuh anaknya.

Deg. Entah sudah berapa kali jantung Utomo terpaku seperti ini. Kali ini diiringi dengan air mata yang sudah mulai merebak di pelupuk matanya. Anaknya. Bayinya. Kedua tangannya tidak ada. Diana menjerit seketika. Perawat berusaha menenangkannya. Utomo terpaku. Dia tak tahu mau bilang apa.

“Ini akibat keadaan bayi Anda yang prematur,” suara Dokter Gunawan. “Juga karena keadaan kandungan istri Anda yang pada dasarnya lemah,”.

Utomo sudah tidak lagi mendengarkan kata-kata Dokter Gunawan. Air matanya sudah jatuh dari tadi. Entah penjelasan secara ilmiah yang bagaimana yang dijelaskan Dokter Gunawan. Utomo sudah sangat lemas.

Tiba-tiba pikiran Utomo teringat pada kucing hitam tadi. Juga Mbah Rin. Tiba-tiba ingatan itu mampir di pikirannya. Cerita Mbah Rin. Tentang kucing hitam. Juga mimpinya barusan. Tentang anaknya. Sekali lagi teringat keadaan kucing hitam itu. Kucing hitam yang menghuni pikirannya sejak tadi malam. Darah. Kedua kaki depan kucing itu yang terpisah dengan badannya.

Utomo tak menyangka mimpinya barusan menjadi kenyataan. Dia tak menyangka akan jadi seperti ini. Perlahan Utomo memberikan bayinya pada perawat yang memberikan bayinya tadi. Dia perlu berpikir, menenangkan dirinya. Diana sudah tidak sehiteris tadi. Tapi masih sesunggukan. Utomo tak sanggup melihatnya. Utomo melangkahkan kakinya keluar ruangan. Duduk di bangku depan ruangan. Merenung. Menangis. Pasrah. Sudah entah berapa lama dia menangis di situ. Yang di ingatnya hanyalah dia kembali bermimpi. Tentang anaknya. Juga Mbah Rin.

***

20 tahun lalu. Pinggiran Jawa Barat.

“Kamu tahu, kucing hitam itu tanda kesialan. Banyak yang bilang itu jelmaan setan. Makanya kamu jangan sampai melukai kucing hitam, nanti kamu bisa mendapat sial,” suara perempuan tua memecah keheningan sore itu.

“Ahh Mbah, itukan cuma takhayul. Aku nggak percaya. Ini kan sudah abad 22, mana ada yang kayak gitu,” suara anak kecil membantah.

“Eh eh eh, kamu ini. Dibilangin kok malah ngeyel. Itu benar. Sebagai orang Jawa kita harus meyakininya, supaya hidup aman tentram. Apalagi kalau nanti istrimu sedang hamil, tidak boleh menyakiti makhluk apapun, sekalipun itu tumbuhan. Kalau kamu sampai menyakiti kucing hitam akan berakibat buruk bagi calon anakmu nanti. Itu artinya kamu kena karma,” perempun tua itu kembali bergumam.

“Mbah ini gimana sih, kita kan orang berpendidikan. Masa’ percaya yang gituan. Aku nggak percaya pokoknya,” anak kecil itu lagi.

“Kamu ini gimana sih Utomo. Masa’ kamu baru percaya kalau kamu mengalaminya sendiri,” suara perempuan tua itu lagi. Mbah Rin.

Utomo kecil tetap menggeleng. Berlari kecil di halaman depan rumah. Dia tetap tak percaya. Menurutnya itu mustahil. Takhayul. Nggak mungkin. Tidak ada yang namanya kesialan karena kucing hitam. Apalagi karma.

***

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s