Ini Cerita Tentang Mencoba

Kunjungan ke Ashram Gandhi Pura
Kunjungan ke Ashram Gandhi Pura

 

November lalu, aku diberi kesempatan untuk berangkat ke Tanah Dewata, niatnya untuk mengikuti Workshop Pers Kampus Meliput Isu Keberagaman yang diadakan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK)—nyambi liburan. Berangkatlah seorang diri aku dari ujung Sumatera ke Timur Indonesia. Selalu ada kali pertama untuk semua hal, termasuk pergi ke Timur Indonesia. Juga termasuk, bertemu 25 orang dari beberapa provinsi Indonesia—yang tersebar—dan menghabiskan waktu 2 malam untuk berdiskusi tentang keberagaman.

Oke, bohong kalau aku bilang aku tak bertemu orang-orang hebat nan kece. Teman-teman peserta pun tak kalah oke pemikirannya mengenai keberagaman.

Awal sekali, aku masih memiliki pikiran yang lumayan picik. Bukan aku tak menghargai perbedaan, hanya terkadang—sering kali—aku kelepasan untuk mulai berpikiran buruk tentang macam-macam perbedaan.

Niatan awal aku mengikuti workshop ini memang untuk menggembleng pemahamanku. Aku harus dapatkan jawaban dari pertanyaanku selama ini—pertanyaan dari hasil diskusi berkali-kali dengan rekan-rekan di pers mahasiswa—saat semua orang mengerti pluralisme dan menerapkannya, bukankah akhirnya tidak ada yang menjadi salah dan benar? Karena semua orang jadi saling menghargai dan menerima? Akan jadi apa kita saat sudah seperti itu?

Dan pertanyaan bla bla bla lainnya.

Pengalaman—dan petualangan—ku dimulai dengan diskusi apa itu keberagaman dan bagaimana seharusnya kita sebagai jurnalis dan media menyajikannya dalam bentuk hasil liputan—sebenarnya saat itu ada diberi pemahaman tentang Komisi Penyiaran Indonesia dan bagaimana cara menulis narasi.

Oh ya, ada diskusi mengenai Hak Asasi Manusia bersama Awigra dan Diskusi mengenai Perempuan di Media bersama Cok Sawitri.

Apa mau dikata, dua terakhir adalah favoritku.

Oke, lagi-lagi kami ber-26 saling lempar argumen dan coba pertahankan argumen masing-masing. Lalu sama-sama menyepakati argumen manapun yang bisa dijelaskan dengan akal sehat dan logika.

Sebenarnya saat dilihat begitu saja, workshop ini mungkin hanya sekadar pemaparan dan pemaparan. Menurutku, ilmu sebenarnya adalah pengalaman bertemu orang-orangnya. Peserta yang berbeda pemikiran, paham, para pemateri yang punya segudang pengalaman dan prestasi menulis dan tentu saja, panitia.

Juga, pengalaman mengunjungi Ashram Gandi Puri. Itu pertama kalinya aku berinteraksi dengan masyarakat Hindu dan betapa takjubnya aku dengan ajaran dan paham hidup mereka. Yang paling membekas dan ngena sekali adalah saat ku tanya pada I Wayan Dika—dia yang kami temui di sana—mengenai bagaimana Hindu memandang perbedaan. “Tak ada yang masalah, masyarakat saja yang berpikir dan menjadikannya sebuah masalah.”

Yah! Bertemu dengan orang-orang yang seperti itulah yang menjadikan perjalananku kali ini sangat amat menyenangkan dan penuh dengan pembelajaran.

Sepulangnya aku dari perjalananku, rasa-rasanya langsung ingin ‘mencicipi’ perjalanan-perjalanan lainnya. Bertemu orang-orang lain yang memiliki pemahaman tentang keberagaman dan berdiskusi.

Jangan tanya seberapa kuat aku berusaha untuk mulai mengubah cara menulisku dengan semua yang ku dapatkan saat workshop. Mengubah tulisanku agar lebih ‘jurnalisme damai’ dibanding ‘jurnalisme konflik’.

Oke, itu sesuatu yang susah. Sesuatu yang hingga hari ini masih sangat kuupayakan dan terus kulatih.

Meskipun aku masih kesusahan dengan cara menulisku, setidaknya aku sudah memiliki pemahaman yang masuk akal dan logikaku mengenai perbedaan. Perbedaan bukan sesuatu yang harus dihindari, toh Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan bukan tanpa alasan. Pepatah perbedaan itu indah bukan hanya sekadar ‘pemanis’ tiap buku cerita yang diselipkan saja. Tapi, itu benar adanya.

Ah, masih ingat pertanyaanku yang mengiringi perjalananku ke Tanah Dewata?

Sebelum berangkat, seniorku pernah tanya samaku, “kau sepakat sama pluralisme, enggak?”

Lalu, kutanyakan ‘pertanyaanku’ padanya. Dijawab, “ah, susah aku jelasinnya. Tapi orang-orang yang kau jumpai di sana (SEJUK) nanti, punya jawaban untuk pertanyaanmu.”

Saat di Bali itulah, aku temukan jawabannya, dari hasil diskusi, pengamatan hingga bertanya langsung pada Mas Thowik.

Hingga aku sampai pada satu kesimpulan.

Setiap orang memiliki hak asasi manusia yang sama, dan tentu saja kewajiban yang sama, yaitu: menghargai hak tiap orang. Tak ada yang salah selama kau tidak mengganggu hak orang lain. Intinya, saat kau melakukan hakmu dan itu mengganggu hak orang lain, berarti itu bukan sesuatu yang benar untuk dilakukan. Karena HAM adalah hak asasi manusia yang tidak menginjak-injak hak asasi manusia lain.

 

Workshop Jurnalis Kampus Meliput Isu Keberagaman oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman, 19-21 November 2014, Denpasar, Bali.

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s