Biru

11282771_1447017812275516_481065430_nMari bicara cinta. Aku selalu percaya tak ada yang salah dengan cinta. Tak ada yang salah apabila kita memilih untuk jatuh cinta, apabila kita memilih untuk hanya mencintai atau bahkan memilih untuk hanya dicintai karena terlalu sering tersakiti. Tak ada yang salah dengan itu semua.

Cinta punya banyak ragam dan versinya. Kebanyakan orang mendefinisikan cinta masing-masing sesuai pengalaman dan apa yang diyakini. Itu kenapa cinta punya banyak definisi di tiap orangnya.

Aku sendiri belum punya definisi cinta yang aku rasa tepat sekali. Mungkin karena pengalamanku belum terlalu banyak. Mungkin karena aku baru sekali jatuh cinta, atau mungkin karena aku belum tahu bagaimana cinta dan semacamnya.

Ah, kenapa kesannya bohong sekali ya kalau kukatakan aku tak tahu apa itu cinta. Aku tahu. Aku pernah jatuh cinta. Meskipun sudah lama sekali. Tapi, aku pernah. Ya, meski sekali.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku paham kalau aku sedang jatuh cinta. Oh, oh bukan berarti aku tak pernah lagi berdebar debar malu merona karena seseorang. Empat hingga lima hingga sering kali aku alami.

Merona merah wajahku karena malu. Debar-debar yang tak kunjung berhenti. Bisa hanya karena mendengar suaranya, atau saat mengingat tawanya. Rasanya menyenangkan, bukan?

Ya, mencintai seseorang memang selalu menyenangkan. Menemukan diri sendiri berkali-kali berkutat di depan kaca, memastikan baju yang ini cocok digunakan dengan baju yang itu. Memadu padankan baju yang dengan jilbab yang itu. Kalau perlu, dengan sepatu sekalian.

Menemukan diri sendiri berusaha dua kali lipat dibanding biasanya, tak mau gagal atau terlihat buruk di depannya. Dan menemukan diri sendiri berkali-kali mengecek sosial medianya. Bisa facebook, instagram, twitter, blog, atau ask.fm kalau dia juga punya. Hahaha, rasanya? Jangan ditanya. Kalian pasti pernah merasakannya.

Menemukan diri sendiri tanpa sadar selalu melibatkan namanya dalam setiap percakapanmu. Atau lebih memilih menikmati kebersamaan dengannya dalam diam. Tak berbagi dengan orang lain. Menemukan diri sendiri menyimpan rasa berdebar-debar dalam diam, dan tersenyum sesekali saat teringat hal tentang dia. Sekaligus merona tentunya.

Aku mendefinisikan cinta sebagai biru. Tak ada alasan spesial. Hanya alasan sederhana. Aku suka biru. Aku suka Biru.

Biru itu tenang, dan menenangkan. Biru membuatku tahu kalau aku akan baik-baik saja. Sejauh aku mengenalnya, Biru selalu menyenangkan. Biru selalu bisa menjadi teman diskusi. Selalu bisa menjadi tempat berbagi.

Ah, aku tak tahu apa Biru punya perasaan yang sama. Menganggapku menenangkan, menyenangkan dan menjadi teman diskusi dan berbagi.

Tidak, aku tidak jatuh cinta padanya.

Tulisan ini random sekali ya. Aku tidak bisa fokus. Mungkinkah karena Biru? Oh, sial.

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s