(Judul) Entah Apalah

965586_641680929194508_533071597_o Bulan pertama, tangis terjadi tak henti-henti. Sesal masih menelikung hati sesekali. Rasa-rasanya ingin berhenti saat itu juga, balik badan, dan kembali. Ada mereka yang sesekali menentramkan isi hati, membuatmu sibuk dengan ragam perbaikan diri. Bulan kedua, masih terasa tak mudah. Tangis dan tawa sering datang di saat yang sama. Meski tangis masih mendominasi di dalam mata. Bukan kau tak berusaha, hanya saja hati tak tentramkan jiwa. Harap demi harap lenyap jadi asa. Momen terindah membuatmu kembali tak dapat tahan luka. Ini memang tak mudah, tapi kau tahu kau harus tetap berusaha.   1507836_755994057763194_1998967618_n Bulan ketiga, sedikit-sedikit semua lebih ringan. Harap-harap berubah menjadi angan. Sesekali aku terduduk sendiri dalam diam. Tanyakan isi hati dan kesungguhan. Untuk pertama kalinya, kau coba tentramkan perasaan. Dan tanyakan keinginan? Benarkah ini yang mendamaikan? Bukankan ini malah menyakitkan? Syukurnya, kau dikalahkan oleh kesibukan. Kesibukan menjadi sayap penyelamat. Bulan keempat, kesibukan meraja lela. Hati dipaksa rasakan hal lain. Otak dipaksa berputar pikirkan hal lain. Dia terlupakan. Kau senang. Kesibukan buatmu tak sempat pikirkan. Oh, meski sesekali rindu menggelitik hati. 1005556_646096338752967_703438651_n Bulan kelima. Kesibukan menyitamu seratus persen dari kenyataan. Kesakitan tersingkirkan begitu saja. Kau tak sempat lagi pikirkan apa-apa. Tak sempat risaukan apa-apa. Tak sempat dambakan apa-apa. Seiring jalan, ikhlas perlahan menelusup. Seiring kesibukan, rasa menerima menentramkan perasaaan. Kau ikhlas, katamu. Bulan keenam, ternyata waktu jelas-jelas tak diam. Rasa mengobrak abrik damai yang awalnya mendominasi. Kau dipertemukan. Goyah jelas datang menerjang. Rindu menyergap terang-terangan. Kau sudah ikhlas, jelas. Kau sudah menerima, jelas. Hanya, kau masih dengannya. 579804_609914365704498_2017491584_n Bulan ketujuh, syukurnya terlupakan kembali. Macam pelarian yang kau canangkan rasanya membuahkan hasil. Kau melupakannya, jelas-jelas tak teringat padanya. Bulan kedelapan, syukurnya kau sudah benar-benar tak teringat padanya. Hanya sesekali meminta informasi darinya, karena kau punya teman yang sama. Rasa-rasa yang dulu meledak-ledak hilang begitu saja. 299685_562993030396632_1774173410_n   Bulan kesembilan, rasa itu kembali menyiksa. Siapa sangka degup-degup tak menyenangkan itu masih berdampak. Masih mempunyai kontrol atas rasa dan pikiranmu. Kau limbung. Kau patah, kau tahu.  Ikhlas yang kau gaung-gaungkan jelas tak punya kekuatan lagi. Padahal beberapa bulan ini kau habiskan dengan sangat keras. Dengan degup-degup yang kau bunuh tak henti-henti. Dengan tangis yang tak kau tawar-tawar lagi. Dengan waktu yang kau kejar-kejar. Dengan pelampiasan yang kau ancang-ancang. Semua hanya dikarenakan kau tak siap, saat ada orang lain yang menggantikanmu. 1625486_779704692058797_301980057_n

Hei hatimu, baik-baik ya.

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s