Surat Cinta untuk Yuni

Aku yang dulu
Aku yang dulu

Sebelumnya aku tak pernah kepikiran untuk menulis sebuah atau lebih dari sebuah surat kepada diriku sendiri. Pernah sih, beberapa bulan yang lalu, dan belum kesampaian hingga hari ini. Belum kesampaian karena aku belum menemukan apa yang akan aku tulis dan memang waktunya yang belum tepat.

Hingga datanglah pertanyaan tak terduga-duga dari seorang abang di suatu sore. Ia minta aku menulis sebuah surat untuk diriku di masa lalu. Bisa surat bahagia, atau surat sedih.

Awal tahun baru kemarin, aku membongkar habis semua buku-buku yang ada di dalam lemariku. Isi lemari itu adalah semua harta karunku selama delapan belas tahun hidup sebagai manusia. Berisi semua buku harianku sejak sekolah menengah pertama. Berisi semua pernak-pernik alay masa kanak-kanak. Berisi semua surat-surat kecil yang kerap kutulis di tengah-tengah jam pelajaran di SMA.

Siapa sangka aku menemukan buku-entah-apa-judulnya-aku-lupa, yang pasti berisi tentang kepribadian diri gitu. Aku isi waktu kelas 2 SMP. Di sana juga ada sebuah surat yang kutulis untuk diriku di masa lalu. Suratnya pendek, isinya tentang Yani.

Lain kali, saat aku pulang ke rumah, akan kusempatkan membongkarnya kembali dan akan ku-posting.  Tentu dengan perbaikan (menutupi kealayanku) tanpa mengubah isinya.

Pertanyaan ini aku rasa adalah momen. Momen untuk memaksa otakku berpikir dan menulis.

Let’s go!

***

Ini surat keduaku untukmu, setelah lebih tujuh tahun tak menyapa.

Lama sudah tak bertemu denganmu, lama sudah tak berbagi cerita denganmu. Tak pernah kusempatkan mengunjungimu dan menepuk-nepuk pelan ujung kepalamu untuk menenangkanmu. Tak kusempatkan barang menyapamu sedetik dua detik.

Rasa-rasanya aku tak punya kata lain selain, “Apa kabar, Yun? Sehatkah? Bahagiakah?”

.

.

.

.

.

.

Maafkan aku yang tak terus menerus menemanimu, Yun. Maafkan aku yang tak berusaha lebih keras untuk mengerti dan memaklumimu. Maafkan aku yang tak melindungimu dari mereka-mereka yang sudah menyakitimu. Maafkan aku tak bisa menjadi teman yang baik untuk diriku sendiri.

Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti sabar dan ikhlas. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti tawakal dan bersyukur. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti terima kasih.

Maaf sudah meninggalkanmu saat itu, Yun. Maaf karena membiarkanmu menjalani ini semua sendirian. Maaf karena sudah egois untuk dua puluh tahun hidup ini.

Maaf karena sudah memaksamu hingga batas kemampuanmu. Maaf sudah memaksamu memaafkan orang yang paling menyakitimu. Maaf sudah memaksamu ikhlas berhenti mencintai orang yang mengajarkanmu semua arti cinta. Maaf sudah memaksamu bertahan padahal aku tahu bertahan tak akan membuatmu lebih baik. Maafkan aku, Yun. Yang lebih memilih mereka (teman-teman kita) untuk kugembirakan dibanding dirimu.

Terima kasih sudah mau ikhlas melepaskan dia. Terima kasih sudah mau memaafkan orang yang sudah menyakiti kita. Terima kasih sudah mau bertahan untukku.

Maaf karena sudah memaksamu membaik-baikkan perasaanmu meskipun aku tahu itu adalah saat paling terpuruk yang pernah kita lewati. Terima kasih sudah setia menyimpan rahasia masa itu hanya untuk kita berdua.

Maaf dan terima kasih.

Hanya itu yang bisa kuucapkan untukmu, diriku di masa lalu. Orang paling hebat dan teman paling dekat.

Menangislah sesekali, hei diriku. Menangislah saat kau merasa butuh. Menangislah saat kau sudah tak sanggup menahan semua paksaan dan tekananku. Aku tak apa, akan kuberikan kau jeda untuk bernapas.

Bencilah, bencilah semua orang yang ingin kau benci. Tak usah kau hiraukan diriku. Tak akan kupaksa-paksa dirimu untuk lebih mendahulukan mereka dibanding kebahagiaanmu.

Marahlah, marah saja, Yun! Marahlah, saat kau merasa dengan marah kau bisa tenang. Kau bisa lampiaskan semua kemarahanmu padaku. Tak perlu bingung karena mereka-mereka yang perlu kau jaga perasaannya.

Kecewa saja sesekali, saat keadaan memang mengecewakanmu. Tak usah perdulikan apa kata orang-orang di sekitarmu.

Carilah, carilah pengganti dia yang sudah kurampas darimu. Carilah orang yang bisa menjadi segalanya untukmu. Seperti dia yang menjadi segalanya untuk kita, saat dulu.

Carilah penggantinya. Kau akan lebih baik.

***

Maaf dan terima kasih, hei diriku di masa sekarang. Masih bertahan bersamaku di sini. Mari kita rayakan ulang tahun ke-21 di tahun ini!

 

Aku yang sekarang
Aku yang sekarang

p.s Ingatkah hari di mana masih menjadi gadis kecilnya Ibu? Ingatkah masih menjadi cucu kesayangan Kakek dan Nenek? Ingatkah hari di mana masih bermain lepas bersama Abang? Ingatkah hari di mana masih mengejar-ngejar Ana (sambil bawa sapu) keliling kampung karena membuatmu marah? Ingatkah hari di mana kau tak bisa tertidur karena menunggu kelahiran Sila dan Dira? Ingatkah hari di mana kau tertawa girang menertawakan Yusuf karena menangis mendapatkan juara 3 di kelas saat kelas 3 SD? (rasa-rasanya aku memang sudah iseng dari kecil)

p.s.s Aku menghabiskan waktu lebih dari tiga jam untuk menuliskan surat ini. Judul tulisan ini aku pilih karena aku suka. Kesannya, aku bahagia. Dan memang iya.

Advertisements

One thought on “Surat Cinta untuk Yuni

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s