Ini Senja Ridho

pematang senja

Aku diam. Meringkuk dan diam. Diam di sudut dan memperhatikan. Bukan sekali ini aku diam. Dan meringkuk. Dan duduk di sudut. Juga bukan sekali ini aku diam sambil memandangi Ibu. Tapi hari ini berbeda. Ibu menangis. Aku juga jadi ingin menangis.

Aku tak tahu harus bagaimana. Haruskah aku mendekatinya dan memeluk punggungnya? Mengucapkan kata-kata penghiburan?

Ah, aku tak tahu. Orang dewasa susah dimengerti. Aku juga tak mengerti mengapa Ibu menangis.

Ibu jadi sering menangis akhir-akhir ini. Setelah didatangi orang dari jauh. Jangan. Jangan tanya aku siapa namanya. Aku tak tahu. Ibu tak memperkenalkanku padanya dan tak membiarkanku menguping pembicaraan Ibu.

Sambil mengelus-elus kepalaku Ibu berkata, “Ridho, tidurlah, Nak, tidur. Ada Ibu di sini.”

Nah, apa coba maksudnya? Ibu memang selalu bersamaku. Tapi aku hanya diam dan beranjak tidur saat itu.

Lain waktu, orang dari jauh datang lagi. Ibu kembali tak membiarkanku ikut pembicaraan mereka. Aku disuruh tidur. Iya Bu, kataku. Sayup-sayup kudengar orang dari jauh berteriak pada Ibu. Ibu balas berteriak.

“Pergi! Pergi kau!” teriaknya. Orang dari jauh marah. Dibantingnya vas bunga milik Ibu. Sambil menghentakkan kaki, orang dari jauh pergi dan membanting pintu rumah.

Aku diam. Ibu diam. Aku masih diam. Ibu sudah tak diam lagi. Ibu menangis. Aku masih diam. Ibu masih menangis. Aku hanya diam. Ibu masih menangis dan tak kunjung berhenti.

Perlahan tangan Ibu berayun memelukku. Dekapannya erat sekali. Aku sulit bernapas. Tapi aku hanya diam. Ibu menangis. Tak berbicara, hanya menangis. Dan semakin menjadi.

Hari-hari berlalu. Orang dari jauh tak pernah datang lagi. Namun, Ibu masih menangis sesekali. Saat malam menjelang puncaknya. Saat Ibu pikir aku sudah terlelap dan tak akan mendengar tangisannya.

Tapi, aku mendengarnya menangis. Bahunya terguncang-guncang. Suara tangisnya ditahan. Air matanya tak berhenti. Bagaimana aku bisa terlelap dengan kondisi seperti itu? Aku tak tidur. Tapi, setahu Ibu, aku terlelap.

Saat pagi menjelang Ibu akan seperti biasanya. Bangun lebih awal dibanding aku. Menyiapkan sarapan pagiku. Dan mengajakku bermain sepanjang hari. Setelah sebelumnya Ibu membubuhkan bedak dan pemulas bibir agar wajah Ibu tak terlihat sembab. Agar tak menimbulkan kecurigaan kalau Ibu menangis semalaman.

Aku akan diam, tak menanyakan mengapa Ibu menangis. Ibu juga akan diam. Karena setahu Ibu, aku tak tahu kalau Ibu menangis lagi.

Hari-hari selanjutnya orang dari jauh tak datang ke rumah. Ibu sepertinya juga sudah mulai melupakannya.

Lama kelamaan tempat tidurku mengecil. Atau aku yang membesar ya? Rasanya sesak sekali kalau aku mau tidur atau bergerak saat tidur. Apalagi aku tidur berdua bersama Ibu. Aku mau minta Ibu beli tempat tidur baru.

Akhir-akhir ini Ibu sering mengajakku mengobrol. Sore-sore kami akan duduk di beranda belakang. Menghabiskan waktu hingga maghrib menjelang. Hingga dinginnya malam mulai terasa. Lalu Ibu akan bercerita. Cerita apa saja. Semuanya diceritakan. Mulai Ibu kecil, remaja hingga beranjak dewasa.

Lain waktu Ibu tak mengajakku menghabiskan senja di beranda belakang. Tapi di taman komplek rumah. Melihat anak-anak berlarian bermain bersama. Kami hanya duduk. Ibu sesekali mengajakku berbicara. Sambil mengelus-elus kepalaku.

Lain waktu Ibu tak mengajakku kemana-mana. Mendengarkan musik di rumah. Tak bercerita apa-apa. Hanya mendengarkan musik.

Empat hari lalu kesehatan Ibu memburuk. Ibu semakin susah bergerak. Untuk sekadar bangun dan berbincang denganku saja Ibu rasanya berat melakukannya.

Rona wajahnya pias. Tak ada senyum yang kerap Ibu tunjukkan. Tak ada tawa yang kerap hiasi rumah ini.

Ibu sudah tak bisa menemaniku menghabiskan senja, atau hanya sekadar duduk-duduk di beranda belakang, atau di taman komplek perumahan atau sekadar duduk mendengarkan musik berlama-lama.

Ibu hanya berbaring. Aku tak tega melihatnya.

Untung saja ada nenek tetangga yang baik hati. Ia rajin ke rumah kami sekarang. Ia yang menemaniku saat Ibu sedang terlelap atau terlalu lelah berdamai dengan kondisinya.

Ia yang mendendangkan musik atau sekadar bertanya kabarku hari ini. Nenek tetangga yang bak hati juga yang mengurus Ibu.

Dua hari lalu keadaan Ibu masih belum baik. Di hari yang sama, orang dari jauh datang ke rumah. Aku tak suka dengan kedatangannya kali ini. Orang dari jauh pasti akan membuat Ibu marah lagi. Pasti akan bertengkar dengan Ibu lagi. Ibu sedang tidak sehat!

Ibu menarik nafas perlahan. Ia peluk tubuhku sebentar. Ia elus kepalaku dengan sayang.

“Tenang ya, Nak. Ibu pertahanin Ridho kok,” kata Ibu perlahan.

Aku tak mengerti apa yang Ibu bicarakan. Tapi aku hanya diam.

Ibu dan orang dari jauh berbicara. Ibu dan orang dari jauh bertengkar. Ibu dan orang dari jauh saling berteriak. Suara barang-barang terjatuh terdengar di sana sini. Riuh. Keadaan semakin riuh.

***

“Kurang ajar! Aku sudah bilang aku tidak mau menggugurkan kandunganku! Aku tidak mau membunuh anakku!” Mary berteriak lantang.

“Ini demi kebaikan kita. Kita tak punya waktu dan uang untuk membesarkannya apalagi diribetkan olehnya,” sahut lelaki di depannya.

“Aku! Aku sudah bilang kalau kau tak mau berurusan dengannya biarkan saja aku yang menjaganya!”

“Ya sudahlah! Dia sudah mati sekarang. Kau sudah bebas darinya,” cetus si lelaki.

“Dasar anjing! Kau tega membiusku dan menyeretku ke dukun aborsi! Kau suruh dukun itu mengeluarkan anakku saat aku tak sadar! Anjing kau!” Mary kembali memaki.

Lelaki itu hanya diam. Mary menangis dan terus menangis. Mary yang malang.

***

Ibu, ini senja terakhirku di sini? Aku bahkan tak sempat ucapkan selamat tinggal.

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s