Ridayani

Sumber: Istimewa
Sumber: Istimewa

“Apa kabar Nek? Sehat-sehat kan?” tanyaku mengawali perbincangan sore itu.

Sarijem. Perempuan tua yang tadi kupanggil Nek hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku.

“Kapan pulang?” tanyanya.

“Kemarin sore baru nyampe, ini baru sempat kemari,” sahutku. “Nenek sudah makan?” tanyaku lagi.

“Tadi siang udah,” sahutnya sambil tersenyum. Aku juga tersenyum.

“Sudah mengunjungi Yani?” tanyanya lagi.

“Belum sempat Nek,” sahutku.

“Besok ke sana ya.”

Kutundukkan kepalaku perlahan. Sambil mengingat apa-apa saja jadwalku besok.

“Iya Nek,” aku mengiyakan. “Nenek ikut?” tanyaku kemudian.

“Enggak lah, Ni aja yang ke sana. Sampaikan salam nenek untuknya. Minta maaf juga karena Nenek belum bisa mengunjunginya,” jelasnya. Ni, panggilan keluarga untukku.

“Yaudah deh, nanti Ni sampaikan,” sahutku.

“Jadi Nenek ngapain aja selama Ni pergi?”

Cukup satu pertanyaan yang akan membuatnya menceritakan semuanya. Nek Sarijem. Aku selalu mengunjunginya. Menjadi teman bicaranya barang satu-dua jam. Mendengarkan keluh kesahnya sudah menjadi rutinitas kecil yang sudah kujalani sejak enam tahun yang lalu.

Aku telah mengenal keluarga Nek Sarijem sejak kecil. Rumah yang berdekatan menjadikan semuanya mudah. Nek Sarijem berteman dengan Nenekku. Dan aku berteman dengan cucu kesayangan Nek Sarijem, Ridayani. Dulu Yani—begitu kami memanggilnya—yang selalu menemaninya dalam menjalani masa tuanya. Nek Sarijem yang sudah mengurus Yani sejak kecil dan menganggap Yani sebagai anaknya sendiri sangat kesepian saat Yani memutuskan pergi enam tahun yang lalu, tanpa pamit. Nek Sarijem sangat kehilangan. Padahal Yani itu sosok sempurna seorang anak. Dia sangat menyayangi Neneknya. Tak pernah sekalipun aku mendengar Nek Sarijem berkeluh kesah tentangnya.Tapi, entah apa yang membuatnya tega pergi 6 tahun lalu. Untuk berbicara denganku saja dia tak mau. Meskipun kami tahu dimana dia tinggal sekarang. Dan kami sesekali mengunjunginya.

Namaku Luni, sekarang aku menggantikan posisi Yani setelah dia pergi. Akulah yang berusaha menemani masa tua Nek Sarijem. Akulah yang menghapus air matanya saat dia mulai menangis karena merindukan Yani. Akulah yang selalu mengingatkannya untuk makan dan minum obat. Sejak aku masih sekolah di kota ini sampai sekarang aku pergi sekolah ke kota lain. Nek Sarijem adalah orang yang selalu menunggu kepulanganku selain keluargaku.
“Sudah sore Ni, nggak pulang? Nanti dicariin Ibumu loh,” suara Nek Sarijem mengagetkanku. Kulirik jam tanganku. Pukul 5 sore. Sudah 3 jam aku di sini. Lama juga.

“Dicariin Ibu sih nggak Nek, kan tadi udah pamit, hehe,” sahutku. “Tapi Ni ada janji sama kawan Nek. Ni pulang dulu ya,” kataku.

“Iya, hati-hati ya,” sahutnya ambil tersenyum.
Setelah mencium tangan dan kedua pipinya yang sudah di makan usia. Aku langsung pamit pada Bu Nur, anak Nek Sarijem yang sekarang menemaninya di rumah itu. Kulangkahkan kakiku menuju rumahku dengan isi kepala yang selalu sama setiap kali aku selesai mengunjungi Nek Sarijem. Kenapa Yani pergi padahal dia tahu Neneknya sangat membutuhkannya?

***

Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk pergi mengunjungi Yani. Setelah berpamitan pada Ibu aku langsung pergi mencari angkutan umum. Cukup memakan 20 menit untuk membuatku tiba di rumah Yani. Kulangkahkan kakiku pelan memasuki rumahnya. Mengucap salam. Tak ada yang menjawab. Sudah biasa.

Dia ada di situ. Kemudian aku duduk di hadapannya. Dia hanya diam. Memang seperti itu tiap kali kami mengunjunginya. Sepertinya dia tak terusik dengan kehadiranku.

“Hei, apa kabar?” sapaku.

“Maaf baru mengunjungimu sekarang, aku baru sempat pulang kemarin. Ada banyak pekerjaan yang harus kukerjakan di sana,” celotehku.

Dia diam. Aku melanjutkan.

“Harusnya kita sama-sama pergi ke sana, sama-sama sekolah.”

Dia masih terdiam. Air mataku menetes, tapi aku tak peduli, aku masih saja bercerita.

“Nenek nyariin kau terus, dia terus nangis kalau ingat kau. Kau nggakmau ketemu dia? Sekadar memastikan keadaanmu baik-baik saja di depannya? Agar dia tak perlu khawatir terus.

“Aku selalu tak habis pikir. Kenapa kau tak pernah berpamitan padaku atau pada Nenekmu. Seharusnya kau tahu kami yang paling sayang dan yang paling kehilangan saat kau memutuskan pergi,” aku masih berbicara di hadapannya. Dia bergeming. Hanya diam.

“Aku juga tak tahu kenapa kau begitu tega meninggalkan Nenekmu sendirian saat dia masih sangat membutuhkanmu. Padahal kau tahu pasti tentang hal itu,” sahutku lagi.

Dia masih saja diam. Aku tak peduli. Aku masih saja menangis sambil berbicara di hadapannya. Aku sangat membutuhkan jawaban-jawaban atas pertanyaanku. Karena rasanya sakit saat melihat Nek Sarijem menangis pilu tiap mengingatnya. Aku tak tahu sudah berapa lama aku menangis di hadapannya. Kulirik jam tanganku. Pukul 11. Berarti sudah 2 jam aku disini. Selama itu juga dia diam dihadapanku. Selama itu juga aku bercerita dan bertanya padanya. Dan masih tak ada jawaban.

Kuhela napas perlahan. Rasanya semua ini hampir sia-sia. Kulihat kembali ke arahnya. Dia masih diam.

“Aku pulang dulu, aku hanya ingin menjengukmu. Kau baik-baik di sini ya, kunjungilah Nenek sesekali. Dia sangat merindukanmu,” akhirnya aku menyudahi acara kunjunganku hari ini.

Kututup mataku. Kuangkat tanganku sedikit. Berusaha menikmati kesunyian bersamanya.
Aku berdiri dari duduk nyamanku sedari tadi. Kulangkahkan kakiku menjauhinya. Dia tak berusaha mencegahku.

“Aku pulang ya, assalamualaikum,” kataku.

Tak ada jawaban.

Aku berjalan pulang. Sedikit kulihat ke belakang. Tak ada plang besi yang biasanya berdiri tegak di depan rumahnya. Aku mengernyit sedikit. Kemana plang itu? Biasanya ada.
Kakiku tersandung sesuatu. Saat ku lihat kebawah ada plang di situ. Kumiringkan kepalaku sedikit agar lebih mudah membaca tulisan di atasnya.

Taman Pemakaman Umum Kampung Sari Kota Tebing Tinggi.

Ini dia ternyata plang yang sedari tadi menjadi pertanyaanku. Mungkin ada yang membuatnya jatuh. Setelah kuberdirikan dan sandarkan di tempat yang lebih layak kulangkahkan kakiku. Perjalanan pulang yang tadi sempat tertunda.

Sambil berjalan ingatanku melayang pada enam tahun silam, ginjal akut yang menyebabkan Yani pergi dari dunia ini. Meskipun tau Yani telah pergi, Nek Sarijem masih belum bisa melepaskannya, dia terlalu sayang dan takut menghadapi kenyataan bahwa cucunya sudah pergi. Sedangkan aku hanya bingung kenapa dia tak pernah berpamitan padaku bahkan menjelang ajalnya.

Kutolehkan kembali kepalaku ke belakang. Melihat ke arahnya. Aku masih tak mendapat jawabnya. Tak apalah. Aku tersenyum. Kupejamkan mataku perlahan. Berharap doa yang kulantunkan tadi dapat mejadi lagu nina bobo untuknya. Kembali kulangkahkan kakiku. Kali ini tanpa melihat kembali ke belakang. Aku bersiul sembari berjalan. Kota Tebing Tinggi cerah hari ini. Semoga menjadi hari yang baik. Untukku. Nek Sarijem. Juga untuknya.

Ridayani.

Advertisements

2 thoughts on “Ridayani

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s