Pulang

Kau datang ke Rumah. Padahal dua belas tahun terakhir ini tak sedikitpun terpikir olehmu untuk datang. Tapi kali ini ceritamu berbeda. “Ada hal penting yang ingin aku lakukan di sana,” ujarmu.

Dua belas tahun tak pernah datang ke Rumah bukan tanpa alasan, bahkan beragam. Dulu saat kau masih berstatus siswa kau menolak datang dengan alasan banyak tugas yang harus dikerjakan. Apalagi saat libur sekolah yang singkat biasanya dihabiskan dengan belajar bersama atau study tour ke luar kota.

Dia hanya mengangguk saat kau bercerita tentang alasan-alasanmu. Teleponnya acapkali menyambangimu di akhir pekan, apalagi saat liburan tiba.

Alasanmu berubah saat resmi jadi mahasiswa, tugas kuliah menumpuk,paper-paper dari mata kuliah di tiap minggu. Juga praktik kerja lapangan yang harus kau lakukan di akhir semestermu hingga proses penyelesaian skripsi yang memakan waktu enam bulan menjadi alasan. Kau bilang kau harus ke luar kota untuk riset skripsimu.

Dia mengangguk saat kau bercerita. Katanya: “Ya, aku mengerti,” saat kau tanya apakah dia mengerti atau tidak. Tak berubah, diameneleponmu di tiap akhir pekan, apalagi saat libur tiba. Bahkan beberapa kali mengunjungi kota ini, untuk sekadar melihatmu.

Alasanmu bertambah saat memasuki dunia kerja. Kau bilang akan sibuk karena bekerja di media. Pekerjaanmu menuntut untuk selalu bergerak ke sana ke mari tiap liputan maupun proses editing. Katamu tak jarang kau tertidur di kantor karena lembur, bahkan akhir-akhir ini kau selalu menginap. Alasannya pekerjaanmu lagi banyak, akhir tahun selalu menyita waktu semua orang, apalagi orang media.

Jelasmu, kerja beda dengan saat masih sekolah. Tidak ada jadwal liburan yang pasti. Libur hari besar juga tak lama, hanya satu dua hari saja. Jadi kau malas datang dengan waktu sesingkat itu. “Buang uang, waktu dan tenaga, seperti orang kurang kerjaan saja,” tuturmu saat dia kembali meneleponmu untuk menanyakan apakah kau akan pulang saat Lebaran. Ini Lebaran kedelapanmu di kota ini.

Seperti yang sudah kau perkirakan, dia mengangguk dan terdiam. Kali ini diamnya lebih lama dari biasanya. Mungkin karena nada suaramu naik satu oktaf dari kali terakhir dia menghubungimu.

Dia sudah berhenti berkunjung sejak tiga tahun lalu dan kau tak pernah tanyakan alasannya. Bahkan saat teleponnya tak pernah lagi menyambangimu dua tahun terakhir, kau tetap tak berusaha mencari tahu. “Aku lupa menghubunginya,” katamu.

Sejak itu tak sekalipun terbersit di kepalamu untuk mencoba menghubunginya. Atau hanya sekadar memikirkannya. Apalagi harus datang ke Rumah. Tidak sempat, istilahmu.

Syukurnya kesibukan yang kau gaungkan di tahun pertama bekerja menjadi kenyataan. Kau berkali-kali lipat lebih sibuk. Kau tak perlu lagi berbohong padanya karena semua yang kau bilang kini benar.

***

Tanggal 2 April kemarin tepat dua belas tahun sejak kau memutuskan untuk sekolah di kota ini. Dua belas tahun kau tak pernah datang ke Rumah. Dua belas tahun kau menutup interaksi dengan siapapun di Rumah. Dua belas tahun kau menjaga komitmenmu tetap utuh.

Akhir-akhir ini kau teringat padanya. Demi Tuhan, itu kali pertamamu. Kau mulai memikirkan bagaimana dia rela datang ke kota ini untuk sekadar mengunjungimu. “Kangen,” katanya waktu kau tanya alasannya.

Kau juga memikirkan bagaimana dia tahu tiap kali kau demam atau hanya flu. Dia akan menghubungimu meskipun sudah larut. Mengatakan semuanya baik-baik saja, mendiktekan semua yang perlu kau tahu dan harus dlakukan. Banyak minum air, jaga pola makan, istirahat, jaga kesehatan, jaga pola tidur, tak boleh terkena hujan, lemari es harus penuh persediaan makanan dan obat, adalah sekian dari banyak pesannya untukmu.

Dengan lembut dia menyuruhmu memasak bubur. Sederhana, campurkan air panas dan bubur instan, dengan taburan bawang goreng, potongan kecil ayam dan kerupuk yang juga instan.

“Aku ingin sekali memasakkannnya untukmu, tapi kau jauh.”

“Tak perlu, sudah cukup.”

“Haruskah aku datang ke sana besok? Aku bisa menjaga dan menyediakan semua kebutuhanmu.”

“Tak perlu.”

“Kau yakin? Aku khawatir,” suaranya memelas padamu.

“Tidak. Ku bilang tidak perlu,” lagi-lagi suaramu naik satu oktaf.

Dan begitu saja. Terjadi jeda panjang sebelum kau akhirnya mematikan telepon dengan alasan kau ada meeting satu jam lagi dan kau harus segera bersiap-siap.

Nyatanya kau tak sedang ada meeting apapun, kau diberi izin tak hadir selama tiga hari ke depan karena sakitmu tak membaik. Kau hanya lelah berpura-pura. Berpura-pura peduli dan menjadi pendengar yang baik.

Dulu juga sama seperti ini. Saat dia memutuskan untuk menikah tanpa sepengetahuanmu. Tanpa berbicara dan berunding denganmu. Padahal kalian baru kehilangan. Padahal kau masih berduka dan ingin berlama-lama dengannya, menuntaskan semua kekecewaanmu pada Tuhan karena kehilangan. Padahal dia berjanji padamu untuk menjaga dan tidak akan meninggalkanmu. Dia malah berpikir untuk mengkhianatimu. Pernikahan itu meninggalkan bekas luka dan kecewa yang dalam padamu. Berhari-hari kau tak mau bicara padanya.

“Mana janjimu dulu?! Kau bahkan tak mengingatnya!” bentakmu saat itu.

Kau bahkan tak lagi memanggilnya dengan sebutan khasnya di rumah. Sejak itulah kau dan dia ber- ‘aku-kau’.

Puncak kekesalanmu membuatmu memutuskan untuk sekolah di kota ini. Melepaskan semua amarah dan dendam dengannya. Hingga kau tak pernah datang ke Rumah selama dua belas tahun ini. Amarah dan dendam itu belum hilang rupanya.

Hingga hari ini, kau bangun tidur setelah begadang hingga pukul empat pagi. Tanganmu refleks menggapai telepon genggam di atas meja samping sebelah tempat tidur. Kebiasaanmu.

One message received. Dia.

Nama kontak yang tertera membuatmu kaget. Sambil mengernyitkan dahi kau membuka pesan dan membacanya.

Pulanglah, aku ingin melihatmu. Mau kan?

Hanya itu. Tapi cukup membuatmu terpaku. Sudah lama sekali sejak dua belas tahun lalu tak ada yang memintamu untuk pulang. Biasanya kau diminta datang, datang ke Rumah. Bukan pulang. Pulang ke rumah.

Pulang. Pulang. Pulang. Pulang. Pulang.

Pikiranmu tak berhenti berpikir. Kau menyetir mobilmu sembari tersenyum. Rasanya sudah lama sekali kau tak tersenyum. Kau akan pulang, pulang ke Rumah. Rumah yang selama ini kau cari. Ternyata membutuhkan dua belas tahun lamanya untukmu menyadari ternyata Rumah-mu tak sejauh dugaanmu.

Bahwa Rumah-mu tak pernah berubah. Untuk menyadari tenyata dia selalu menunggumu di Rumah. Untuk menghentikan semua penolakan dan kebohongan yang kau buat untuk dirimu sendiri. Karena kau enggan menerima kenyataan, karena kau kehilangan dua orang yang membesarkanmu, dua orang yang jadi kiblat hidupmu.

Menurutmu ada hal penting yang harus kau lakukan di Rumah. Menemuinya dan meminta maaf, karena telah menyia-nyiakan dua belas tahun hidupnya untukmu. Kau juga ingin mengatakan padanya kau merindukanya. “Ibu, aku pulang,” gumammu di sela-sela perjalananmu.

Medan, 10 Januari 2013

08.55

Advertisements

Akan menyenangkan mengetahui pemikiranmu untuk postingan ini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s